#CeritakuDariRumah: Kebaikan Ramadhan 2020 di tengah Wabah Covid-19.

WeWeDogom.com -- Ramadhan tahun ini, katanya merupakan bulan puasa yang paling beda dari tahun-tahun sebelumnya.

Katanya, Ramadhan tahun ini menjadi bulan puasa yang paling enggak asyik dari tahun-tahun sebelumnya.

Sebab, aktivitas-aktivitas menyenangkan di bulan Ramadhan, kini menjadi lebih terbatas. Seperti, ngabuburit sambil jalan-jalan atau buka bersama bareng teman-teman dan sahur on the road bersama anak jalanan.

Kegiatan rutin menyambut Ramadhan dan beberapa tradisi yang selalu dilakukan setiap tahunnya, juga terpaksa enggak dilaksanakan atau dibatasi demi memutuskan penyebaran pandemi pneumonia COVID-19.

Tenang wan-kawan; kamu enggak sendirian, kok. Aku pun juga demikian. Parahnya, aku dirumahkan dari pekerjaan. Bukan work form home

Dalam Artikel ini, akan membahas;
  • 〷 Tradisi Menyambut Ramadhan yang tidak kulaksanakan tahun ini.
  • 〷 Kebaikan yang Bisa Kulakukan Dari Rumah.
  • 〷 Hikmah dirumahkan ketika Pandemi Pneumonia COVID-19


RAMADHAN TAHUN INI, KARENA COVID-19. KITA SEMUA SAMA; BERSAMA-SAMA BELAJAR MELAWAN KEBIASAAN DEMI KEBAIKAN.

Biasanya, menyambut Ramadhan; ada banyak tradisi rutin yang ditunggu-tunggu, selain menjalankan Ibadah Puasa Ramadhannya itu sendiri.

Tradisi rutin tahunan yang biasanya akan dilaksanakan bersama teman, rekan dan sanak saudara. Tradisi itu lah yang membuat kita mendapatkan semangat dan euforia Ramadhan.

Tapi, tahun ini; kebahagiaan-kebahagian itu enggak bisa dilaksanakan. Supaya, penyebaran COVID-19 cepat stabil dan bisa dikendalikan. 

TRADISI MENYAMBUT RAMADHAN YANG TAK KULAKSANAKAN TAHUN 2020 KARENA COVID-19

Sebagai pribadi yang hidup bersosial dan merupakan perantau dari kota besar ke pedalaman Kabupaten. Aku hidup dengan aneka ragam suku dan budaya.

Beberapa perantau yang sudah lama berada di sini, masih melaksanakan tradisi adat kebudayaan masyarakat di kampung mereka, agar tidak lupa sekaligus pengingat kampung halaman.

Sehingga, dapat mengobati sedikit kerinduan akan rumah dan keluarga di kampung halaman.

Oleh karena itu, aku pun melakukan hal yang sama. Mengikuti tradisi sebagai bentuk solidaritas antar umat berbudaya dan bentuk bersosialisasi dengan lingkungan. 
 

PUNGGAHAN

Sebagai insan bersuku Jawa--yang tidak bisa berbahasa Jawa--yang saat ini tinggal di Desa Transmigrasi di Riau, tepatnya Kabupaten Kampar. Punggahan menjadi tradisi rutin yang sering aku laksanakan. 

Makan Bersama MDS Alfa Scorpii Flamboyan
Bersama rekan-rekan kerja, MDS Alfa Scorpii Flamboyan; aku ada di pojok kanan atas.

Tradisi punggahan merupakan tradisi makan bersama dengan iringan doa sebelum menyantapnya. Seperti tahun lalu, punggahan aku laksanakan bersama warga desa di Masjid dan dengan teman kerja di Dealer.

Tidak di tahun ini, karena pandemi Covid -19 memuncak saat Ramadhan tiba. Banyak anjuran pemerintah daerah untuk mengurangi aktivitas berkerumun dan saling menjaga jarak.

Cukup menyedihkan, keseruan dan kebersamaan yang terjalin ketika makan bersama ini, merupakan cara menebar semangat dan kegembiraan menyambut Ramadhan.

Tapi, meskipun tahun 2020 kini, tradisi punggahan tidak dilaksanakan seperti tahun-tahun lalu. Ramadhan akan tetap berjalan lancar, Insha Allah. 
 

BALIMAU

Tradisi mandi di sungai ini datang dari ranah Minang, Sumatera Barat. Karena Riau bertetangga dengan Sumbar dan kebanyakan masyarakat Sumbar merantau ke Riau. Balimau menjadi kegiatan mengasyikkan ketika menyambut Ramadhan.

Banyak rekan kerjaku mengajakku 'mandi air jeruk nipis' di sungai. Beramai-ramai mandi bersama sambil membawa makanan untuk disantap usai mandi. 

Mandi ke Sungai
Mandi ke Sungai bersama rekan-rekan MDS Alfa Scorpii Sukaramai.

Karena wabah COVID-19, Balimau terpaksa tidak dilakukan, sebab anjuran pemerintah untuk tidak berkerumun.

Menyiasati itu, karena aku orang Medan. Ada sebuah tradisi 'mirip' seperti Balimau. Orang Medan menyebutnya, 'mandi pangir'.

Perbedaannya, jika Balimau menggunakan jeruk nipis; mandi pangir menggunakan ragam kembang dan rempah yang direbus. Air rebusan itu lah yang disebut pangir.

Selain itu, mandi pangir bisa dilakukan sendiri di rumah, walau sebenarnya lebih asyik dilaksanakan bersama-sama di sungai. 

MEUGANG

Karena aku masih memiliki keturunan suku Alas di Aceh Tenggara dari Ibuku (Alas - Manado), tradisi Meugang kerap beberapa kali aku lakukan jika 'ada yang mengajak'. Tahun lalu, perantau asal Aceh mengajakku melaksanakan tradisi meugang.

Meugang merupakan tradisi menyambut Ramadhan dengan memasak daging dan memakannya bersama rekan, saudara, anak yatim piatu dan dhuafa. Tradisi ini mirip seperti Punggahan, hanya saja Meugang lebih dominan 'Memakan Daging'.

Aku yang enggak tahu mau ngapainTambahkan teks

Kebijakan Pemerintah yang tegas melarang Mudik; memaksa beberapa teman kerja dan kenalan di Riau yang masih menjalani tradisi Meugang, memilih pulang kampung karena tidak memiliki pekerjaan lagi di sini.

Beberapa perusahaan dan mandor; merumahkan pekerjanya. Termasuk aku.

Hal ini lah yang membuat rekan-rekanku memilih 'pulang kampung', karena tidak dilarang pemerintah dan dianjurkan oleh perangkat Desa daripada luntang-lantung di tanah orang.

Aku lebih malang nasib, orang tuaku melarangku pulang karena 'takut', bukan takut aku membawa virus ke rumah. Tapi, takut terjangkit virus saat perjalanan pulang ke kampung halaman.

Oleh sebab itu, aku terpaksa mendekam di rumah sendirian. Dengan uang tabungan yang tersisa dan kegabutan yang 'Masha Allah' bosan!

Jadi, agar tidak membuang waktu dengan berleha-leha atau rebahan seharian. Aku melakukan hal-hal positif sebagai 'seorang penulis' dan 'Blogger'. 
 

KEBAIKAN YANG BISA KULAKUKAN DARI RUMAH SAAT RAMADHAN DI TENGAH WABAH PANDEMI PNEUMONIA COVID-19.

Baru kali ini kurasakan capeknya rebahan. Saat ini, Allah SWT memberikan kita kesempatan dan waktu untuk lebih memahami diri sendiri; menggali potensi dan berdamai dengan diri sendiri.

Kini lah saatnya kita belajar, bersabar, menghormati, bersedekah, dan lebih dewasa dalam artian dapat memilah hal baik dan buruk. 

SEBAR ILMU LEWAT KONTEN

Hari ketiga puasa Ramadhan. Tak sengaja kuperhatikan anak tetangga menjawab soal-soal yang diberikan dari kelas daringnya.

Dia hanya mengucapkan, "Ok Google!" Kemudian membacakan soal-soal itu dan taraaa!!! Jawabannya muncul dengan mudah.

Takjub, saat ini belajar bisa dengan mudah dilakukan. Kalau mengingat masa-masa sekolah dulu; perlu mengulik banyak buku dan catatan agar dapat menjawab soal-soal yang diberikan.

Aku yang gemar berinteraksi dengan anak-anak. Mengobrol tentang kegiatan mereka di sekolah.

Suatu hari, tiga orang murid-murid lesku menghampiri rumahku. Karena desa hanya menutup akses keluar-masuk saja. Jadi, aktivitas warga desa masih bisa dikatakan 'aman' kalau hanya berinteraksi dengan sesama warga doang.

Murid-muridku minta diajarin cara menulis karangan bebas yang menjadi tugas akhir semester pengganti ujian kenaikan kelas. Hahaha! Ternyata, masih ada tugas yang enggak bisa mereka temukan dengan mudah hanya dengan mengucapkan, "Ok Google!".

Padahal, cara-cara menulis karangan bebas itu kan banyak banget beredar di internet.

Agak sulit mengajari murid-murid ini, mengingat mereka sudah lama tidak menulis banyak kata. Bingung! Cara apa yang tepat.

Jadi, kuawalai dengan pemanasan. Dikte lah yang kupilih. Aku membaca materi, mereka menulis yang kuucapkan.

Di sela-sela belajar, anak tetangga yang tanpa sengaja kuperhatikan mengerjakan tugas dengan mengucapkan, "Ok Google!" Ikut nimbrung. Minta tolong diperbaiki gawainya.

Kubantu sambil tetap membacakan dikte untuk murid-murid lesku. Lagi-lagi, tanpa sengaja kutemukan kata 'dikte' di pengaturan; Google Keyboard di android.

Singkatnya, fitur dikte di G-board menjadi metode belajar yang kupilih untuk anak-anak muridku. Caranya hampir sama seperti mengucapkan, "Ok Google", tapi kali ini; cukup ucapkan cerita yang ingin ditulis.

Karena ketidaksengajaan itu, berhasil lah kumenulis Artikel baru yang sepertinya dibutuhkan juga untuk anak-anak murid milenial lainnya.


Anak-anak muridku berhasil mengerjakan tugasnya, aku pun berhasil berbagi tips yang masih sedikit dibahas di Internet. 

DIGITALISASI KEBIASAAN

Waktu aku kecil. Ada banyak perlombaan yang akan diadakan ketika Ramadhan. Misalnya, lomba adzan, membaca ayat Qur'an, Tausiyah Cilik, Cerdas Cermat, Menggambar Kaligrafi Arab, dll.

Mengingat keadaan saat ini, aku menghubungi beberapa kenalan di sekitar kecamatan. Kami mengobroli kerisauanku ini yang akhirnya membuahkan hasil.

Yap! Kami memilih untuk mengadakan kegiatan itu melalui 'video'. Jadi, peserta lomba merekam video diri mereka mengerjakan perlombaan dan dikirimkan melalui WhatsApp Panitia.

Senang rasanya dapat melaksanakan kegiatan ini di tengah Wabah COVID-19 seperti saat ini. Meskipun saat-saat sulit seperti ini, kita masih tetap bisa melakukan kebaikan; meskipun caranya kini lebih terbarukan. 

SEDEKAH ONLINE

Semenjak aku dirumahkan, ada banyak buku yang kubaca dan video-video YouTube yang kutonton. Karena itu, pikiranku pun jadi lebih sering gelisah.

Pekan kedua Ramadhan, aku sadar belum menyedekahkan sebagian pendapatanku. Hasil dari pendapatan Digital Marketing seperti Afiliasi dan Menulis Artikel kini menjadi pendapatan utamaku.

Di mana pendapat utama itu harus disedekahkan agar lebih barokah.

Aku pun menelpon temanku lagi, dia seorang ustadz. Kuceritakan kegelisahanku itu. Kubilang, saat ini aku lebih dominan mendapatkan gaji dari internet, tapi bingung mau disedekahkan ke mana.

Kalau ke warga desa, kebanyakan masyarakat di sini memiliki pendapatan yang tinggi dan mereka pun enggak bakal mau menerima sedekahku yang 'kecil', ini.

Biasanya sih aku bakal main ke luar desa atau ke desa sebelah dan mencari orang yang tepat. Karena saat ini banyak desa yang menutup diri. Aku pun direkomendasikan temanku itu untuk menyedekahkannya melalui jalur daring juga.

Hingga terpilih lah, "Dompet Duafa" yang menjawab kegelisahanku dan tetap membuat identitasku tidak disebutkan. Kata ibuku, kalau bisa kita bersedekah; orang lain enggak tahu.

Karena itulah, aku menulis Artikel ini. Sebab, aku menemukan informasi lomba menulis artikel di blog yang diselenggarakan Dompet Duafa Sulawesi Selatan bersama Ramadhan Virtual Festival.

HIKMAH YANG KUPETIK DARI WABAH PANDEMI PNEUMONIA COVID-19.

Aku jadi teringat sebuah lagu soundtrack dari sebuah film berjudul, "Aeronauts" yang kutonton akhir tahun 2019 lalu. Film yang berdasarkan novel bertajuk; Falling Upwards: How We Took to the Air karya Richard Holmes.

Tambahkan teks

Lagu itu berjudul; Home to You, dinyanyikan Sigrid Solbakk Raabe; penyanyi sekaligus penulis lagu asal Norwegia.

Lagu pertama yang kusukai dari Sigrid berjudul, 'Plot Twist' dua tahun lalu saat aku mencari artikel tentang cara membuat Plot Twist di Novel.

Jadi, lagu 'Home to You' itu memiliki lirik seperti ini; 

Couldn’t wait till i got outside
Wondering what the world be like
I knew i had to change my mind
Didn’t realize it would happen, oh, so soon
Oh, so soon.

But, i see the world so different now
When i don’t know what to say
When i don’t know what to do
Someone to tell the truth
Would it be okay if i came home to you? 


Liriknya menggambarkan keinginanku saat ini; ingin segera keluar menatap dunia dan melihat keadaannya saat ini. Tapi, dengan pikiran yang berbeda. Apa enggak masalah kalau pulang sekarang?

Kuharap, Ramadhan di tengah Wabah COVID-19 ini dapat memberikan hikmah tersendiri.

Aku menganggap Wabah ini seperti kesempatan, di mana kesempatan tak akan pernah datang untuk kedua kalinya.

Tak akan ada lagi Ramadhan yang seperti tahun ini di tahun-tahun yang akan datang, insha Allah.

KEBAIKAN COVID-19 UNTUK DIRIKU

Tentu, selalu ada hikmah dalam kesempatan apa pun. Seperti saat ini; jarak akhirnya menciptakan banyak kerinduan.

Kata temanku, "space and time will healing" dan itu benar-benar terjadi padaku.

Kunikmati waktu mendekamku untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Lebih mendalami kemampuan diri dan belajar lebih banyak hal.

Kebiasaan-kebiasan baru pun mulai muncul. Seperti, lebih peduli dengan kesehatan. Lebih selektif membelanjakan barang. Sekarang, kalau enggak terasa penting, lebih baik enggak usah dibeli.

Aku yakin, wabah ini seperti demam pada diri kita sendiri. Demam itu berusaha memperbaiki diri. Mengupgrade diri dan kebiasaan yang lebih baik dari hari kemarin. 

Akhirnya ...

Aku jadi lebih sabar dan ikhlas. Lebih melek teknologi dan mendapatkan banyak pengetahuan untuk Blog, Artikel, Digital Marketing dan Kemampuan Dasar.

Aku menikmati waktu luang dengan banyak membaca buku, menulis dan mendalami ilmu kepenulisan. 

Pokoknya, apa yang telah kita jalani di Ramadhan di tengah wabah COVID-19 ini harus berdampak jangka panjang. 

Kita sudah di-update ke versi yang lebih baik. 

Terima kasih, Ramadhan Virtual Festival dari Dompet Duafa Sulawesi Selatan yang memberikan kesempatan untukku menuang cerita ini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition : "Ceritaku Dari Rumah" yang diselenggarakan Ramadhan Virtual Festival dari Dompet Duafa Sulawesi Selatan.


Disusun oleh : Alfin E. Libra 
Penyunting : Alfin E. Libra
Publikasi : Rayan Abdi Nugraha


2 komentar

avatar

Sedikit nyesek Lebaran kali ini gak bisa mudik, tapi banyak hal lain yang dapat direnungi, selamat Lebaran! :)

avatar

Iyaak bener, lebaran tahun ini terasa istimewa dari tahun tahun sebelumnya. Kita bisa jadi betah di rumah, lebih intens bersama keluarga.. semoga lekas kembali normal ya..

Komentar, Kritik dan Saran dari kalian merupakan semangat untuk kami.

Klik di sini

Populer