Malas Menulis? Dikte di G-board - Aplikasi Tanpa Kuota, Tetap Produktif Menulis Artikel dan Novel di Android

wewedogom.com – Dikte menjadi metode belajar menulis yang selalu diajarkan di sekolah.


Sebab, dikte menciptakan interaksi antara pengajar dengan peserta didik. Kegiatan ini, mengucapkan kata agar dapat ditulis.


Dikte dinilai efektif dan menjadikannya sebagai metode belajar yang merangsang otograf¹ peserta didik dalam memroses kata yang didengar, menjadi tulisan


Catatan Kaki : Otograf



Filol (ilmu bahasa) = Tulisan Pribadi

KBBI = tulisan asli yang ditulis oleh penulisnya sendiri.


Dalam Artikel ini, akan membahas;
  • 〷 Manfaat Dikte untuk Belajar
  • 〷 Sejarah Dikte
  • DIKTE DALAM KEHIDUPAN MANUSIA KINI
  • 〷 Manfaat Dikte untuk Menulis
  • 〷 Piranti Rekomendasi Dikte
  • 〷 Cara Mendapatkan Google Keyboard (G-Board)


Dijabarkan manfaat-manfaat dikte yang dikutip dalam makalah yang disusun oleh Mahasiswa PGRI Semarang pada tahun 2014 dengan tajuk ‘Kemampuan Berbahasa Indonesia di Kelas Rendah’,  yakni;



Pertama, mengetahui kesalahan penulisan atau ejaan sebuah kata, kalimat, atau bacaan singkat secara cepat.



Kedua, dikte meningkatkan kemahiran mendengar dan menulis para peserta didik.



Ketiga, dikte melatih daya ingat jangka pendek peserta didik terhadap kata atau kalimat yang didengar sebelum dituliskan.



Keempat, dikte menjadi acuan kemahiran berbahasa dan pengenalan kosakata baru.



Tambahan, dikte membuat peserta didik memahami hal yang dibacakan, sehingga mampu mengarang kata sesuai dengan kata yang telah didengar.


Sesuai maknanya di KBBI, dikte merupakan ‘dibaca keras-keras supaya ditulis orang lain’. 


Tapi, tahukah kamu. Bahwa, mendikte menjadi cara yang ampuh lebih cepat menyelesaikan naskah novel?


Penulis Joanna Penn melakukan itu.

Joanna Penn
Joanna Penn

Dia menuturkan bahwa dikte membuatnya dapat menghasilkan 5000 kata dalam satu jam.


Dilansir dari artikel :

Baca Juga : 5 Teknik Umum Menulis Novel di Wattpad
 

Joanna Penn bilang;

Suara tulisanku telah berubah melalui proses dikte, dan mungkin membuat ceritaku lebih segar dan dialognya lebih jelas. Dikte merupakan cara yang mudah sebagai teknik menulis-lisan.


Sejarah Dikte

Dikutip dari artikel ‘A History of Dictation in Foreign Language Teaching and Testing’ yang ditulis oleh Charles W. Stansfield, bersumberkan dari buku ‘The Modern Language Journal’ volume 69 tahun 1985. 


Sejarah Dikte

Dikte menjadi salah satu teknik tertua dalam proses pembelajaran bahasa. Di abad pertengahan; dikte digunakan sebagai media pengajar antara guru dengan murid.


Pada abad itu, dikte digunakan sebagai pelatihan menerjemahkan Kitab Taurat dan memahami makna-makna yang tersirat di dalamnya. Sedangkan di Arab, proses dikte atau menulis bahasa Arab itu disebut, Imla. 


Pada akhir abad ke-6 memasuki abad ke-7 atau pada masa kenabian Muhammad SAW. Banyak pemeluk agama Islam mulai pandai baca-tulis. Hal itu dikarenakan gebrakan program Nabi Muhammad SAW yang gencar ‘memberantas buta huruf’. 


Makna Dikte Menurut Peneliti

Karena orang-orang di Timur Tengah telah menjadi bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi pada masanya, membuat mereka mengalami perkembangan di dunia tulis menulis dengan mengenal kata dan alat-alat tulis.


Baca Juga : Penulis Saksi Peradaban


Salah satu seni bahasa bangsa Arab Klasik adalah Ars Dictaminis atau seni dikte. Istilah Ars Dictaminis juga bermakna 'mengarang'.


Makna itu dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan pada abad ke-19.

Dikte
Dikte Abad Pertengahan


Orang-orang pada masa renaisans dalam gerakan Humaniora Italia, diungkapkan oleh Wilhelm Wattenbach bahwa orang-orang pada masa itu sering mendiktekan tulisannya ketika menulis surat.


Menemani Wilhelm, seorang peneliti yang sama-sama meneliti Ars Dictaminis pada abad ke-19, Ludwig Rockinger mengatakan bahwa dikte adalah ungkapan sastra dengan deretan kata yang ditata indah dan rangkaian kalimat dengan gaya yang penuh hiasan.


Pengertian itu diperkuat oleh Charles Thurot yang meneliti Ars Dictaminis pasca penelitian Ludwig Rockinger. Thurot menjelaskan bahwa Ars Dictaminis adalah seni mengarang dengan bahasa yang indah.



Menurut Ludwig Rockinger, dikte didefinisikan ke dalam  epistolari atau surat-surat para rasul yang menjadi bagian dari Kitab.


Hal ini lah yang membuat, dikte menjadi metode belajar memahami kata, sebab kata itu ditulis oleh ucapan.


Jadi, dikte dapat diartikan sebagai, ‘seseorang mengucapkan, dan seorang lagi menulis yang diucapkan’ dan juga bisa berarti mengarang, yang memiliki perumpamaan, ‘menulis kata yang diucapkannya sendiri’. 


DIKTE DALAM KEHIDUPAN MANUSIA KINI


Manusia telah mengalami banyak perubahan peradaban yang diiringi perkembangan teknologi dan gaya hidup, demikian juga dengan cara menulis. 


Sebelum manusia mengenal huruf, kita menceritakan dengan menggambar adegannya dengan goresan.


Setelah itu, orang-orang mengukir tulisan di atas batu. Kemudian, manusia menulis menggunakan pena bulu dan kertas


Pada awal abad ke-19. John Mitchell dari Birmingham, Inggris mulai mengembangkan pena yang dibuat dari mesin.


Lalu, hadirlah mesin ketik yang diikuti oleh perkembangan komputer. Saat ini, komputer telah digantikan oleh laptop karena lebih praktis dan fleksibel.


Tapi, pilihan lain adalah handphone yang jauh lebih praktis dan nyaris dimiliki oleh setiap manusia modern.


Berbeda dengan komputer dan laptop yang hanya dimiliki oleh golongan tertentu saja.


Perkembangan handphone yang semakin menjadi-jadi, menciptakan gaya atau cara menulis yang baru.


Dengan adanya fitur merekam suara dan fitur 'speech to text' yang diadaptasi dari alat perekam suara ciptaan Thomas Alfa Edison, membuat penulis tidak perlu lagi menggunakan jari. Hanya suara dan imajinasi.


Penggunaan mesin dikte atau perekam suara, dahulu biasanya digunakan oleh wartawan atau orang-orang yang ingin menulis ulang pidato atau wawancara yang direkam dan diaplikasikan melalui mesin tik.


Kini, di era yang lebih praktis. Penulis tak perlu lagi duduk di depan peralatannya selama berjam-jam memikirkan kata yang ingin dirangkai. Cukup rekam ceritanya, gunakan G-Board yang ada di handphone.


Jadi, bisa jadi dalam beberapa waktu ke depan. Semua orang bisa menghasilkan naskah cerita tanpa harus menulisnya. 


Sebelum mengenal G-Board yang direkomendasikan sebagai alat perekam suara atau 'speech to text'. Mari mengenal ...


Manfaat Dikte

1. Mencegah Masalah Kesehatan 

Dikutip dari hellosehat yang melansir dari webmd; duduk terlalu lama mengakibatkan:


  • Otot membakar lemak lebih sedikit,
  • Sirkulasi darah lebih lambat,
  • Asam lemak lebih mudah menyumbat peredaran darah ke jantung.


Dari ketiga hal yang disebutkan, ternyata memengaruhi kreativitas otak. Hal itu disebabkan karena suplai darah dan oksigen yang lebih lambat.


Selain itu, duduk terlalu lama juga mengakibatkan kelebihan berat badan dan tekanan pada tulang belakang dan cakram yang menyusun tulang belakang menyebabkan sakit pada leher dan tulang belakang.


Namun, berkat dikte. Kegiatan menulis bisa dilakukan tanpa harus duduk dengan peralatan menulis. Bahkan, bisa dilakukan sambil melakukan kegiatan lain.


2. Menghindari Writer's Block

Mengutip penjelasan makna Writer's Block dari Artikel yang telah dipublikasikan, sebelumnya.


Baca Juga : Makna Writer's Block : Sejarah & Pandangan Para Ahli Disertai Jenis dan Solusi Mengatasinya.


Writer’s Block merupakan suatu kondisi yang menghambat kreatifitas penulis dan menyebabkan penulis tidak dapat menghasilkan kata-kata sehingga menciptakan kebingungan dan menimbulkan frustasi. 


Dengan mendiktekan melalui perekam suara, mampu menghilangkan kekhawatiran penulis tentang  deskripsi yang sempurna. 


Selain itu, dikte juga menyampingkan kegelisahan penggunaan tata bahasa dan tanda baca yang benar. Sebab, peranti dikte G-Board memiliki kosakata yang sesuai dengan PUEBI.


Merekam cerita juga memberikan kesempatan bagi penulisnya  mengeluarkan semua gagasan yang berputar-putar di benak dengan menuangnya karena mudah diucapkan.


3. Menghemat Waktu 

Perlu 4.200 kata dalam seminggu untuk mencapai sasaran 50.000 kata selama 3 bulan. 


Dalam artikel ' 17 Tips Menulis Ala Stephen King. Menulis dalam dua Perspektif '. Penulis Novel Best-Seller 'IT' yang telah diangkat ke layar lebar itu, Stephen King, menuturkan ...


Rancangan awal sebuah buku--bahkan yang panjang--harus memakan waktu tidak lebih dari tiga bulan.


Jangan gunakan waktu terlalu banyak. Deadline itu bagus untuk sebuah pencapaian.


Faktanya, kecepatan mengetik manusia biasanya lebih lambat dari kecepatan bicara. 


Menurut RataType; rata-rata orang mengetik sekitar 40 kata per menit, itu pun dilakukan ketika menulis, mengetik, dan berpikir secara bersamaan.


Sebaliknya, rata-rata kecepatan percakapan menghasilkan 150 kata per menit.


Berdasarkan rata-rata ini, diperlukan waktu dua jam untuk dapat mengetik 4.200 kata dalam sehari.


Namun, apabila merekamnya,  memakan waktu 28 menit atau kurang dari setengah jam dalam satu hari.


4. Menghindari  self-editing

Banyak penulis yang risau dengan karangannya sendiri dan memilih membacanya ulang. Sehingga, mudah berhenti dan kehilangan kendali. Ide pun, mudah buyar.


Sebenarnya, menyunting sambil menulis juga bagian dari Teknik Menulis.


Tapi, kebanyakan cara ini tidak berlaku untuk penulis pemula yang mementingkan kesempurnaan dan tidak terlalu besar memikirkan menyelesaikannya.


Sebaliknya, merekam kata-kata dapat membantu membunuh editor yang ada dalam batin. Penulis tidak dapat mengedit saat mendikte. Jadi, tidak  mudah berhenti agar meninjau kembali tulisannya.


5. Menuang Ide Lebih Banyak 

Karena berbicara lebih cepat daripada menulisnya dan karena tidak berhenti  membaca kembali tulisannya. Penulis dapat menangkap semua ide yang muncul di kepala.


6. Dialog Terdengar Lebih Natural

Kebanyakan novel yang bagus melibatkan dialog. Sebab, dialog merupakan salah satu elemen novel yang memiliki pengaruh besar.


Sebab dialog berfungsi sebagai;

  • penyampai informasi
  • penokohan karakter
  • penyambung alur
  • penyulut konflik

Tentu, bahasa tulisan berbeda dari bahasa berbicara. Dalam dialog yang menggunakan bahasa kurang formal yang mengandung banyak percakapan sehari-hari. Dikte membuatnya lebih natural terdengar.


Baca Juga : Definisi Dialog Dalam Novel dan Menyisipkan Informasi
 

Dengan merekam dialog, penulis bisa mendapatkan nada suara yang lebih alami. 


Hal itu juga membuat karakter di dalam novel, lebih mendapatkan peran, sebab penulisnya mendalami peran dengan serius.


7. Bisa Menulis di Mana Saja 

Terkahir, fungsi dari penggunaan handphone itu sendiri. Lebih fleksibel dan dapat dilakukan di mana saja. 

Bayangkan saja, biasanya ide akan hilang beberapa menit dari pikiran jika tidak cepat dituangkan ke catatan.


Memikirkan itu, ketika menulis biasanya penulis sudah menyaring ide yang didapatnya. Berbeda dengan mendiktekannya, ide yang benar-benar mentah itu dapat dicatat dengan jelas karena tersampaikan lewat berbicara.


Selain itu, menulis dengan cara dikte atau merekam suara juga dapat dilakukan di luar ruangan. Hal ini, mungkin dapat memberikan banyak ide ke penulisnya sebab dapat di lakukan di ruang terbuka.


Dengan melakukannya di luar ruangan, penulis bisa mendapatkan pasokan oksigen yang lebih banyak, sehingga pikirannya lebih kreatif dan lebih menyehatkan.


Peranti Rekomendasi - Google Keyboard (G-Board)

Berkembangnya teknologi memengaruhi aplikasi pada handphone yang turut mengalami peningkatan fitur. Salah satunya yakni mengubah suara menjadi sebuah teks.


Google Keyboard atau G-Board. Sebuah peranti ketik virtual dari Google yang memiliki fitur 'talk to text' atau 'speech to text'.


Mengalami pembaruan, G-Board  dapat mengetik hanya menggunakan suara. Tentu, bukan hal baru bagi Google, sebab fungsi ini sudah dikembangkan dan dapat dirasakan oleh banyak orang sebelumnya. 


Ada banyak aplikasi serupa yang dapat diunduh di Google Play Store. Tapi, G-Board lebih direkomendasikan sebab merupakan produk dari Google yang mana, Google sudah tidak diragukan lagi dalam bidang 'bahasa' di dunia virtual.


Bahasa Indonesia di Google telah banyak melakukan penyempurnaan sehingga G-Board lebih cocok digunakan untuk menulis Novel dengan cara mendiktekannya.


Artikel ini bahkan ditulis menggunakan aplikasi G-Board yang ada di Android Xiaomi Redmi 5A tahun 2018.


Proses Menulis Artikel ini dengan Dikte Google Keyboard


Bagaimana cara mendapatkan G-Board atau fitur Dikte di G-Board?

 

1. Dapatkan G-Board di Google Play Store atau klik tautan yang mengarah ke Google Play Store ini;


https://play.google.com/store/apps/details?id=com.google.android.inputmethod.latin

 Tampilan G-Board di Play Store


Mungkin, kamu sudah memilikinya sesuai kondisi Handphone bawaan pabrik.


2. Klik Setting atau Setelan. Kemudian, pilih menu Dikte

 Opsi Setting/Setelan

 Pilihan Dikte di Setelan


3. Aktifkan fitur Dikte dengan mengklik tombol di kanan dan pilih bahasa yang tersedia secara offline dengan mengunduhnya terlebih dahulu. 

 Menu Aktifkan Fitur dan ucapan offline


4. Fitur Dikte sudah Aktif dan dapat digunakan. Cukup buka aplikasi Notepad atau aplikasi serupa yang dapat mengolah kata. Kemudian, klik ikon Microphone di bagian kanan G-Board.

Kamu bisa menggunakan bahasa yang lain, selain Indonesia.


Ukuran file Bahasa-nya juga tidak terlalu besar.


Jangan lupa! Pilih kolom penyesuaian pembaruan aplikasi, agar G-Board kamu bertindak sesuai kendali kamu.


Penutup:

Dikte menjadi opsi pilihan lain menulis naskah artikel atau novel tanpa harus menulis kata-katanya. 


Cukup ucapakan kata-katanya di peranti G-Board atau alat serupa yang mengubah 'Speech to Text' atau hanya merekamnya saja. 


Perlu diingat, bahwa 'Tanpa Kuota' yang tercantum di judul artikel bermaksud 'dapat digunakan secara offline'. 


Cobalah menggunakan Teknik Dikte. Mana tahu, teknik ini memang tepat kamu aplikasikan dan cocok untukmu. 

Akhir kata kuucapkan terima kasih. 

Semangat menulis! Teruslah menulis. Sebab kini, ada banyak cara menulis dan menghasilkan karya tulis. Salah satunya adalah Dikte. 

Mungkin, beberapa tahun ke depan. Semua orang bisa mengisahkan ceritanya dan editor menyuntingnya. Hal ini, mungkin akan membuat industri percetakan dan seni kreatif, lebih berkembang pesat.

Disusun oleh : Alfin E. Libra 
Penyunting : Hend Jobers
Publikasi : Rayan Abdi Nugraha


4 komentar

avatar

Wah iya juga ya, kadang malas kalipun mengetik. Ntar dicobain ah manatau cucokkk

avatar

Bagus kak bisa dicoba apalagi kalau ngeresume biasanya cepek nulis

avatar

Kayaknya bisa teliti ni, buat dijadiin skripsi gitu bagi anak kuliah. Judul skripsinya gini "Meningkatkan Kemampuan Membaca Siswa Kelas X SMA X dengan menggunakan aplikasi G-Board dalam Pelajaran Teks Deskripsi." HAhhahahhaahaha

avatar

Semoga cucok ya, kak.

Komentar, Kritik dan Saran dari kalian merupakan semangat untuk kami.

Klik di sini

Populer