Literasi Ciptakan SDM Unggul!

Mimpi Jokowi di tangan Nadiem, perbaikan pendidikan tanah air ciptakan SDM kompeten dengan meningkatkan LITERASI

WeWeDogom.COM - Di masa awal periode terakhir jabatannya, Presiden Jokowi menghadirkan CEO dari start-up unicorn Go-Jek, Nadiem Makarim, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Era digitalisasi seperti saat ini, Presiden Jokowi tepat memilih seseorang yang menguasai bidang teknologi informasi dan komunikasi untuk mengelola bagian pendidikan.

Dalam Artikel ini, akan membahas;
  • 〷 Pengenalan Singkat, Mas Menteri.
  • 〷 Penjelasan SDM menurut Sonny Sumarsono
  • 〷 Indonesia Sebagai Potensial Pasar Asia Timur
  • 〷 Mendikbud Menyikapi Hasil PISA 2018
  • 〷 Indonesia Peringkat Kedua Perpustakaan Terbanyak di Dunia
  • 〷 Budaya Literasi Meningkat, Budaya Lain Ikut Meningkat

Walau tidak berlatarbelakang sebagai tenaga pengajar atau guru besar, Nadiem Makarim dinilai mampu merombak tatanan pendidikan tanah air menggunakan kemampuan mengelola perusahaan Go-Jek.

Sebagai Visi-Misi Presiden. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan mampu menciptakan generasi-generasi unggul sehingga dapat menciptakan SDM yang berkompeten dan dapat mengelola SDA Indonesia yang kaya.

Nadiem Makarim sendiri, sudah tidak diragukan lagi dalam cara pandang mengelola SDM. Dengan perusahaan yang dibentuknya, Nadiem mengelola teknologi menjadi lapangan pekerjaan dan memudahkan tranportasi masyarakat menjangkau sudut-sudut kota.

Sonny Sumarsono (2003) mengartikan bahwa sumber daya manusia mempunyai beberapa pengertian yaitu;
  • ‌SDM merupakan usaha kerja yang bermanfaat bagi keberlangsungan produksi.
  • ‌SDM merupakan sekelompok orang, terdiri dari manusia yang memiliki kemampuan memberikan jasa.

Indonesia Sebagai Potensi Pasar Unggul Negara Asia Timur. 

Saat ini, Indonesia memang menjadi target pasar ekspansi ekonomi Asia Timur seperti Jepang, Korea dan China sesuai hasil survei Nikkei tahun 2016.

66,3% responden Jepang, 59,2% responden Korea dan 29% responden China, sepakat menunjuk Indonesia dan beberapa negara lainnya.
Sumber : Nikkei
Menyikapi hasil survei tersebut dan mengaitkannya dengan pengertian SDM dari Sonny Sumarsono. Sebagai negara yang memiliki target pasar potensial Asia Timur.

Pemerintah Indonesia berkomitmen membentuk SDM yang mampu memproduksi dan memberikan jasa atau pelayanan.

Kemampuan produksi dan pelayanan jasa yang maksimal gencar dilakukan pemerintah untuk menciptakan SDM yang berdaya saing. Sayangnya, menurut Nadiem, efisiensi tidak menjadi patokan utama.

"... bukan seberapa efisien kita bekerja, tapi kecepatan bekerja," kata Nadiem Makarim saat menghadiri Kompas CEO 100 Forum 2019 di Hotel Ritz Carlton Jakarta, Kamis, akhir bulan November lalu.

Di pertemuan tersebut, masih dalam program 100 hari kerjaannya, Menteri Pendidikan tersebut menyayangkan kepulangan perawat yang dipulangkan ke tanah air. Padahal baru 3 bulan kerja.

Kepulangan perawat tersebut, disampaikan Nadiem Makarim bahwa perawat yang dikirim belum memiliki;
  1. Sikap disiplin
  2. Tidak kreatif
  3. Tidak mampu berkomunikasi
  4. Kurang mampu berkolaborasi

Menambah daftar buruk lainnya, Nadiem menyebutkan bahwa SDM Indonesia memiliki banyak kekurangan, seperti;
  • - Kurang mampu berpikir kritis
  • - Tidak peka terhadap lingkungan
  • - Tidak memiliki jiwa kompetisi

"... kemudian, enggak bisa mengambil keputusan secara mandiri. Semua harus serba disuruh, enggak bisa mengambil keputusan, dan solve problem secara independen," sambung Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim melengkapi daftar buruk SDM Indonesia.

Mendikbud Menyikapi Hasil PISA 2018 

Hasil survei Programme for International Assessment (PISA) 2018 yang diterbitkan oleh OECD awal Desember lalu, ditanggapi oleh Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Menteri yang akrab disapa Mas Menteri tersebut mengakui bahwa Indonesia mengalami krisis Literasi dan paradigma ini tidak perlu ditutup-tutupi.

Menyikapi hasil PISA 2018 yang menunjukkan keterpurukan nilai Literasi siswa di Indonesia. Nadiem Makarim mengimbau untuk mengubah metode belajar;

Dikutip dari Media Indonesia, "Kunci dari kesuksesan belajar adalah mendapatkan sebanyak mungkin perspektif dari berbagai macam bidang dan area," kata Nadiem dalam Peluncuran Hasil Studi PISA 2018, di kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa awal Desember lalu.

Ada '4 Cara Nadiem Membentuk SDM Unggul' selepas menanggapi hasil PISA 2018.
  • Memperkenalkan Konsep Kemerdekaan Belajar.
  • Mencetak Pemimpin Masa Depan
  • Meningkatkan Budaya Literasi
  • Menghapus Ujian Nasional
Sumber : Kemendikbud

Sebagai mana yang pernah diungkapkan oleh Presiden Jokowi, "Guru, Tenaga Pendidikan, Siswa & Mahasiswa adalah SDM, yang nilainya lebih berharga dari SDA."

Peringkat Kedua Perpustakaan Terbanyak Di Dunia. Namun, Krisis Literasi! Ada Apa?! 

Hasil sensus data 2018, Perpustakaan Nasional - Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara pemilik perpustakaan terbanyak di dunia dengan nilai 164.610 berada di bawah India dan mengungguli Tiongkok dan Rusia.
Sumber : Perpusnas

Namun, mengapa Indonesia mengalami krisis Literasi?

Seperti yang diungkapkan Nadiem Makarim tentang kunci sukses belajar dengan mencari banyak perspektif.
Bukan tidak sulit mendapatkan bahan bacaan yang berisikan sudut pandang berbeda yang dapat digunakan sebagai bahan belajar.

Sayangnya, metode yang diungkapkan Mas Menteri memang bukan menjadi fokus pendidikan sebelum kepemimpinan Nadiem Makarim. Hal itu lah yang membuat pelajar enggan mencari banyak sudut pandang.

Apalagi, kemudahan mengakses internet membantu pelajar menemukan banyak narasumber.

Sebagai seorang penulis, kami banyak memaparkan hasil riset dan pengamatan pribadi ke media sosial. 

Sebagai seorang milenial zaman sekarang, generasi ini senang berbagi hal, pengalaman baru, pencapaian dan kegiatan sehari-hari.

Hal yang menjadi alasan mengapa Indonesia mengalami Krisis Literasi disebabkan oleh Nilai Komprehensif. 

Rakyat Indonesia bisa membaca! Bahkan, nilai buta huruf rakyat Indonesia tidak begitu buruk. 

Hanya saja, kemampuan memahami bacaannya yang berada di garis buruk! 

Indonesia bahkan kalah dengan Vietnam bukan hanya dari hasil Final Sepak Bola Sea Games 2019 di Filipina, melainkan hasil Komprehensif rata-rata yang dilakukan OECD.

Kemampuan membaca komperhensif rakyat Indonesia rata-rata berada pada angka 56% TIDAK LULUS pada level 1.

Di level 1, berisikan kemampuan memahami kalimat secara literal sebagaimana adanya 'tumpukan-tumpukan' asumsi dan opini.

Mengapa tidak lulus? 


Hal ini dikarenakan malas membaca sehingga wawasan sempit dan tidak dapat memahami isi dari hal yang dibicarakan.

Budaya Literasi Meningkat, Budaya Lain Ikut Meningkat 

Dengan program Mas Menteri untuk meningkatkan Budaya Literasi. Berarti, meningkatkan minat membaca dan menulis; yang mana hal ini akan membuat pasar Penerbitan Buku akan semakin meningkat.

Tidak hanya itu, bila banyak buku yang diterbitkan. Bukan tidak bukan dunia perfilman Indonesia juga akan ikut meningkat.

Seperti diketahui khalayak umum, banyak karya tulis pengarang Indonesia yang diangkat menjadi film.

Film memang menjadi komoditas tanpa batas yang digemari masyarakat di seluruh penjuru dunia.
 
Negara Jepang memiliki Anime, Korea terkenal dengan K-Drama, India dikenal dengan Bollywood dan Amerika dikagumi maha karya Hollywood.
Negara-negara tersebut menjadi negara yang besar karena karyanya dibutuhkan oleh negara lain. Bahkan, orang-orang rela menghabiskan uang dan waktu demi sebuah kenikmatan yang dapat merelaksasi kehidupan nyata yang pahit.

Bila Indonesia mampu melewati keterpurukan Literasi dan mulai fokus pada keterampilan. Bukan tidak bisa negara ini menjadi bagian dari industri perfilman dunia.

Bahkan, film-film anak bangsa juga sudah mulai merembes ke penghargaan perfilman di dunia.

Seperti kita tahu, negeri ini tidak cukup diceritakan keindahan hanya dari satu sisi saja. Ada banyak cerita, legenda, urban, sudut pandang, kebiasaan dan juga hal baru yang tidak dikenal oleh orang luar.

Sisi positif lainnya, bila budaya kreatif mulai bangkit sebab budaya Literasi difokuskan. Maka, akan ada banyak lapangan pekerjaan yang dapat dilakoni milenial tanah air.

Penutup :

Jadi, keputusan Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam menciptakan SDM yang unggul dengan memperbaiki sistem Pendidikan yang menekan budaya Literasi.

Dirasa tepat dan menimbulkan banyak manfaat.

Selaku penulis dan orang yang mencintai kegiatan literasi. Sekian artikel kali ini, terima kasih banyak Pak Nadiem Makarim. Kami mendukungmu.

Akhir kata, Semangat Menulis! Teruslah Menulis!

Ⓒ EvandoTM
Ⓡ WeWeDogom.com
ྲྀ Alfin E. Libra
Tag on :kadin.id

1 komentar:

avatar

Hidup literasi!👍👍

Komentar, Kritik dan Saran dari kalian adalah semangat untuk kami.

Klik di sini