Durian Ke-36 : Celoteh Ringan di Akhir Pekan tentang Durian di Kota Medan.

Durian merupakan suatu pertemuan dari akronim Diskusi Ringan Anak Medan yang rutin dilaksanakan oleh Komunitas Blogger Medan atau lebih sering disingkat Blog M.

30 November 2019, bertempat di Kantin Netizen, Jalan Hayam Wuruk, Medan Petisah dengan slogan "tongkrongan warganet".

Ini merupakan kali pertamaku mengikuti pertemuan yang sudah mencapai angka ke-36, berarti Durian memang menjadi pertemuan yang akan mengandung banyak nutrisi dan vitamin untuk Blogger yang ingin lebih konsisten terjun ke dalam dunia Blogging.

Sayangnya, dalam pertemuan kali ini … tidak sesuai jadwal yang sudah ditentukan, rencananya akan dilaksanakan pukul 16:00 WIB namun meleset hingga jarum jam menunjuk angka 5.

Syukurnya, ini akhir pekan. Jika tidak, sudah kutinggalkan pertemuan ini.

Nah, kali ini … aku ditantang oleh Kak Jannah, menulis sesuatu di gawai seluler sesuai tema dari pertemuan ke-36 kali ini.

"Ngeblog lewat HP"

Source : Blogger Medan

Dalam perjalanan menuju Kantin Netizen, aku menaiki angkutan umum dari Tembung, nomor trayek 65 berwarna kuning, milik Koperasi Pengangkutan Umum Medan atau lebih sering dikenal sebagai KPUM.

Masyarakat Tembung dari jamanku masih bersekolah dasar, mana mungkin tidak mengenal angkutan umum yang memiliki rute paling panjang--sebelum Dirgantara menyambar posisi itu.

Dimulai dari Kampung Kolam yang terkenal akan sejarah Kampung Bunian (sejenis suku jin yang sering dibincangkan) hingga berakhir ke Pinang Baris, sebuah lokasi tempat Pasar Petisah berdiri.

Mengingat pasar Petisah, aku jadi ingat materi stand up comedy milik Gita Bebita tentang pengalamannya membeli baju di pasar tersebut dan mendapatkan perlakuan lucu dari pemilik toko.

Gita Bebita merupakan seorang pemudi asal Medan yang getol mengembor-gemborkan kehidupannya di Medan. Sama seperti komika kebanyakan yang berasal dari Medan kebanyakan.

Aku jadi teringat juga tentang pengalamanku di Kabupaten Kampar, Riau dua pekan lalu sebelum memutuskan kembali ke Tembung beberapa hari yang lalu.

Di sana, aku banyak membicarakan Tembung ke rekan-rekan yang lain, tentang kemacetannya, rujak simpang jodoh dan pajak gambir--tapi ini bukan kantor Samsat.

Memang, siapapun yang pernah hinggap di kota terbesar ke-tiga di Indonesia ini, akan selalu menceritakan kisah dan pengalamannya.

Sebagai seorang Blogger, memang sudah sepatutnya menciptakan keributan dari tulisan yang dapat membuat sudut pandang baru. Keributan yang dimaksud tentu bukan bermakna keributan yang sebenarnya.

Seperti buah durian, akan ada banyak keributan di jalan-jalan kota Medan menuju Tembung yang banyak penjual meneriakkan barang dagangannya. Sepertinya, keributan itu menjadi ciri khas di pasar-pasar tradisional kota Medan yang lebih sering disebut sebagai pajak.

Mengingat durian, buah ini memang menjadi salah satu daya tarik wisata di kota Medan. Aku pernah mendapatkan sebuah cerita tentang pengalaman memakan buah durian di kota Medan dari salah satu manager tempat kubekerja.

Durian memang penuh daya tarik, aromanya cukup mengundang. Mungkin, ini lah mengapa pertemuan Blogger Medan menggunakan nama buah ini. Itu karena durian memang dapat menarik perhatian dan sedap disantap oleh siapapun--kecuali kamu, yang memiliki riwayat penyakit tertentu.

Sumber : Blogger Medan

Sumber : Blogger Medan

Jadi, untuk siapa pun kamu  yang ingin mendalami dunia blogging, ada baiknya mengikuti pertemuan Diskusi Ringan Anak Medan atau Durian ini, sebab selain durian memiliki daya tarik, di pertemuan ini dihuni oleh blogger-blogger yang akan membagikan pengalamannya dan ilmu-ilmunya kepadamu.

Seperti nasihat guruku ketika masih SMP,
"Salah satu cara efektif mengenal sesuatu adalah  bersosialisasi dengan orang-orang yang mendalami hal itu,"

Akhir kata kuucapkan terima kasih, Aku Alfin ini lagi nulis apaan sih?

Sumber : Blogger Medan

Komentar, Kritik dan Saran dari kalian adalah semangat untuk kami.

Klik di sini