Definisi Dialog Dalam Novel dan Menyisipkan Informasi.

WeWeDogom.Com -- Menulis dialog di dalam dunia fiksi tidak terdengar seperti percakapan di dunia nyata. Jelas sangat berbeda!

Jika kamu masih beranggapan begitu, itu perlu di-revisi. Serius!

Di artikel kali ini, aku tidak memberikan tata cara menulis dialog yang benar. Namun, lebih ke aturan-aturan menulis dialog di dalam novel yang nyaman dibaca.

Sekarang begini ...

Bayangkan, kamu mendengar ibu-ibu yang meng-gosip atau dua orang sedang mengobrol, bukan berdiskusi.

Apa yang sering mereka lakukan?
Selalu berbicara tanpa arah, pasti! 

Umumnya, orang-orang yang sedang mengobrol akan membahas satu topik ke topik yang lain tanpa arah yang jelas dan loncatan yang muncul secara tiba-tiba.

Kebanyakam dari obrolan tersebut, terlalu banyak mengulang-ngulang kata. 

Sehingga, pembicaraan terkesan tak bermakna dan tak ada hal apa pun yang dapat dipetik kecuali basa-basi. 
Ya namanya juga ngalur-ngidul.

Dari 90% topik pembahasan yang dilontarkan. Mungkin, hanya 10% saja yang dapat dipetik hikmahnya.
Semuanya memang baik-baik saja di dunia nyata, tetapi tidak asyik dalam novel. 

Menulis bukan tentang mereplikasi percakapan kehidupan nyata, melainkan tentang memberi kesan tentang alur cerita dan ... 

Ya! Memberikan penjelasan.

Baca Juga : Tata Cara & Aturan Membuat Dialog Tag

Sebagai penulis, penting memilih porsi percakapan dan menyaring intinya saja.

Informasi di bawah ini akan membantumu menulis dialog yang realistis dan membuat pembacamu tetap nyaman berada di dalam alur dan pastinya tidak membosankan!

A. Dialog Harus Terjadi di dalam Konflik.

Percakapan yang menyenangkan memang sangat bagus dalam kehidupan nyata. 

Bahkan percakapan yang tidak memiliki hal menarik, seperti basa-basi, misalnya.

Tapi, basa-basi masih bisa digunakan di novel sebagai informasi dengan teka-teki penuh misteri.

Pembaca merupakan pihak ketiga dan mendengarkan percakapan sebagai pihak ketiga, akan sama menariknya seperti menonton debat Pilkada atau debat drama lainnya di acara Televisi.

Jadi, pastikan kamu tidak mengarahkan pembacamu ke dialog yang membosankan dan membuatnya menguap saat membaca novelmu.

Agar dapat membuat pembaca menjadi pihak ketiga yang senang mendengarkan debat Pilkada--maksudku percakapan--berikan dua karakter  dengan keinginan yang bertentangan.

Kamu hanya perlu membuat kedua karakter tersebut, bersitegang. 
Untuk mengilustrasikannya, lihatlah contoh percakapan di bawah ini ...

****
"Apa menu makan malam ini?" tanya Lucinta.

Bowo membuka lemari es, menggeser susu supaya bisa melihat lebih dalam, "Bagaimana kalau steak?" 

"Kedengarannya bagus."
"Oh! Ada ayam juga nih," sambung Bowo, "... ya kalau kamu mau."

"Tidak! Steak lebih bagus. Dengan beberapa potong kentang."

****

Contoh di atas merupakan percakapan yang sangat bagus, sering diucapkan sehari-hari. 

Tetapi sangat sia-sia bila digunakan dalam dialog novel. 

Tambahkan beberapa konflik ke dalam percakapan itu dan mungkin akan terlihat seperti ini ...

****
"Makan apa kita malam ini?" tanya Lucinta. 

Bowo membuka lemari es, menggeser susu agar dapat melihat lebih dalam, "Bagaimana kalau steak?"

"Apa lagi?"
"Itu saja, steak itu asyik. Kita sudah makan steak sejak Sabtu lalu," jawab Bowo.

"Aku tahu. Dan Sabtu sebelum Sabtu kemarin dan Sabtu kemarinnya lagi! Apa kau tidak pernah menyukai sesuatu yang berbeda, Wok?"
****

Jauh lebih menarik. Mengapa?
Karena dialog mengandung ketegangan!

Lucinta ingin satu hal yang berbeda dan  Bowo menginginkan sesuatu yang apa adanya atau sudah dapat dimaklumi ...

Bowo ingin mengikuti rutinitas seperti biasa. Namun, Lucinta ingin mencoba menu makan malam yang lain.

Ketika karakter memiliki tujuan yang saling bertentangan, konsekuensinya pasti akan terlihat di alur novel.

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan melakukan percakapan sehari-hari dalam sebuah novel.

Hanya saja, coba beri sebuah basa-basi yang berkesan, tidak bertele-tele, dan mengandung makna atau konflik.

Terkadang pertukaran informasi yang sederhana antara karakter akan sangat dibutuhkan. Lakukan! Agar ada ketegangan dan pertentangan di antara para tokoh. 

Selain itu, dialog dalam konflik juga akan menunjukan karakteristik.

B. Dialog harus memiliki Tujuan.

Jika sesuatu dari dialog dalam ceritamu penuh dengan konflik, kamu mungkin harus menghapusnya, bila tidak memiliki fungsi 'menjelaskan'.

Lalu; seperti apa yang dimaksud 'menjelaskan' itu?

I) Dialog Seharusnya Mendorong Cerita.

Obrolan di dunia nyata mungkin tidak mengubah situasi apa pun kecuali beberapa potong informasi yang didapatkan.

Oleh karena itu dialogmu harus memajukan plot dalam beberapa cara. 

Bagaimana cara memajukan plot menggunakan dialog? Coba tanya pada dirimu pertanyaan-pertanyaan berikut ini ...

1. Akankah cerita masih masuk akal jika dialognya dihapus? 
Jika dapat dihapus tanpa merusak  arah plot-nya, lakukan itu. 

Plot hole sering terjadi di dialog, itu sebabnya ... hapus jika bisa dan sesuaikan jika mampu.

2. Apakah dialog meningkatkan ketegangan yang terjadi? 
Jika si karakter mengatakan sesuatu yang menyebabkan pembaca tahu tentang sifatnya atau hasil dari peristiwa yang akan datang, biarkan tetap ada.  

3. Apakah mengubah situasi karakter? 
Jika kamu--sebagai pembaca--mau menerima kabar baik atau buruk yang membuatmu lebih dekat dengan tujuan si karakter, itu akan menggerakkan plot ke depan. 

4. Apakah dialog memberi penjelasan tentang keinginan karakter? 
Apa pun yang membuat tujuan karakter tampak lebih jelas, itu baik dan harus tetap menunjukan arah atau menjelaskan mengapa si karakter ingin mencapai tujuannya.

5. Apakah bagus bila memperkuat penjelesaan ke karakter? 
Percakapan membuat karakter dapat berharap dan tidak membuatnya bimbang memulai pencarian di tempat yang tidak diketahuinya atau memberikan alasan mengapa harus melakukannya.

Intinya, jika suatu percakapan bertujuan mengarahkan konflik ke karakter, percakapan itu akan mendorong plot ke depan. 

Jika, percakapan tentang hal yang tidak penting, dialog mungkin harus dihapus. 

Perhatikan--sekali lagi!--bahwa beberapa "percakapan basa-basi" dalam sebuah novel itu bagus dan dialog sering memunculkan plot hole.

Bagaimana pun, kamu harus menjaga dialog tetap otentik dan semua alasan dapat dijawab tanpa ada komentar pembaca, 

"Di bagian ini, si karakter mengatakan itu. Tapi, di bab selanjutnya dia tidak seperti ucapannya."

Semua orang berbicara tentang cuaca atau sekedar menanyakan kabar sebagai basa-basi untuk membuka obrolan yang menarik.

Buat obrolan ringan seminimal mungkin dan cobalah untuk memastikan bahwa, jika suatu bagian dari dialog mulai menjadi tidak penting, cepat pertimbangkan, atau akan ada plot hole di sana.

Tulis dialog dengan tujuan.

II) Dialog Harus Mendalami Karakterisasi.

Sama seperti memajukan plot, menulis dialog menambah pemahaman pembaca tentang kepribadian karakter. 

Obrolan menimbulkan karakteristik si tokoh, bisa berupa bagaimana si tokoh merespon suatu hal, dan lainnya.

Selalu ingat, ungkapan yang timbul dari obrolan tidak mengubah alur ceritanya.

Namun demikian, karakter akan membantu menjelaskan motivasi apa pun yang diinginkan.

Hal itu membantumu mengenal karakter jauh lebih baik dan itu memberimu wawasan yang lebih luas tentang mengapa--tepatnya--karakter mengejar tujuannya. 

Untuk mengilustrasikan ... 

... mungkin protagonismu memberi tahu karakter lain tentang cara sarapannya yang aneh pagi ini.

Bagaimana cara dia mengalahkan lawan dalam permainan Mobile Legend dari handphone-nya yang kentang, serta suka melihatnya merajuk jika kalah. 

Anekdot atau cerita singkat ini tidak memengaruhi alur cerita. 

Karena tidak relevan dengan cerita sama sekali, tapi malah menunjukkan sisi lain kepada protagonis sisi yang agak kejam--yang mungkin belum diketahui pembaca sebelumnya.
Itu akan menjadi penting nantinya.

III) Dialog Harus Memberikan Informasi.

Informasi apa? Apa pun yang sangat penting untuk memahami cerita. 

Setiap novel memiliki banyak 'fakta' yang perlu dipelajari oleh pembaca ... momen penting dari masa kecil karakter, sejarah singkat tentang kota tempat novel  ditetapkan dan seterusnya. 

Detail yang bukan merupakan bagian dari cerita tetapi tetap penting agar memahami itu dikenal sebagai eksposisi.
 ‌
Memaparkan eksposisi, selalu berisiko membuat pembaca bosan dan membuat mereka melompat ke bagian depan.

Menyajikan eksposisi dalam dialog ke pembaca dengan potongan-potongan kecil yang memaparkan fakta-fakta menjadi pilihan tepat.

Hal itu tidak secara signifikan mengganggu alur dari novel.
Tebak?! 

Dialog adalah salah satu metode terbaik yang ada untuk mendapatkan informasi dengan cara seukuran gigitan. 

Jika kamu melakukannya dengan cukup cakap, para pembaca bahkan tidak akan tahu apa yang kamu lakukan! Kuberikan contoh dalam artikel ini tentang eksposisi ...

****
"Berapa lama pergi ke sana?" tanya Jonathan.
"Dua hari, mungkin tiga ..." kata Bambang, "Aku harus kembali ke Lombok, ulang tahun putriku hari Jumat."
"Oh, sudah berkeluarga, ya?"
"Ya, ayah dari dua anak laki-laki dan perempuan," katanya, "Dan suami dari seorang istri yang sedang tidur dengan seorang laki-laki berusia lebih muda darinya di Bali."
****

Berhati-hatilah terhadap karakter yang mengatakan sesuatu satu sama lain tentang hal-hal yang sudah diketahui. 

Seorang suami misalnya, tidak akan pernah mengatakan ini kepada istrinya ...

"Mala, saudara perempuanku, harus membawa Pimpi, pudel kecil mereka, ke dokter hewan lagi."

Si istri sudah tahu bahwa nama saudara perempuan suaminya, Mala dan Mala memiliki pudel bernama Pimpi. 

Informasi seperti itu hanya ada untuk kepentingan pembaca, dan itu membuat dialog terdengar sangat kaku. 

Jadi jangan lakukan itu!

Penutup

Menulis Dialog di novel tidak merefleksikan percakapan di dunia nyata, namun tidak berarti mengabaikan nalar.

Dialog yang renyah akan nikmat disantap apabila memiliki fungsi yang tepat seperti yang sudah dicontohkan.

Jadi intinya, apabila percakapan itu hanya sekedar obrolan ringan atau hanya basa-basi, pertimbangkan sekali lagi! 

Akhir kata kuucapkan terima kasih.
Selamat Berkarya. Semangat menulis! Terus lah menulis.

↦WeWeDogom.Com
    EvandoTM

Komentar, Kritik dan Saran dari kalian adalah semangat untuk kami.

Klik di sini