5 Teknik Umum Menulis Novel di Wattpad

WeWeDogom.Com -- Konsisten menulis memang masih menjadi tantangan tersendiri bagi para penulis.

Kadang, perlu adanya komitmen dalam diri, agar dapat memberikan semangat untuk dapat mencapai tujuan yang ingin diraih.

Komitmen, tentu butuh banyak pertimbangan. Karena, akan menyingkirkan beberapa kebiasaan.

Khususnya alasan 'menulis hanya bertujuan mengisi waktu luang' yang kemudian berubah menjadi tantangan 'mencapai beberapa kata per hari'.

Kadang, mencoba menyelesaikan beberapa chapter di dalam naskah akan terasa sangat berat.

Dalam Artikel ini, akan membahas;
  • 〷 Lima Teknik Umum Menulis Novel
  • • Teknik Pomodoro
  • • Teknik Menulis Bebas
  • • Teknik Dikte
  • • Teknik Menulis Tanpa Aturan
  • • Teknik Menulis dan Merevisi Sekaligus

Pelan-pelan, menulis di waktu khusus demi menyempurnakannya saat sedang istirahat santai.

Sayangnya, tidak mudah melakukan pertimbangan tersebut. Sebab, tidak ada penulis yang sama, dan tidak ada yang namanya rutinitas menulis yang cocok bagi semua orang.

LIMA TEKNIK UMUM MENULIS NOVEL.


Ketika pertama kali mulai menulis, perlu beberapa waktu agar dapat mencari tahu teknik menulis seperti apa yang produktif untukmu.

Nah! Di bawah ini; beberapa teknik menulis yang berbeda, yang mungkin akan membuatmu ingin mencobanya supaya dapat menemukan teknik rutinitas yang cocok untukmu.

1. Pomodoro.

Dikembangkan pada 1980-an. Pomodoro merupakan alat produktivitas yang sudah teruji.

Pomodoro melibatkan sesi pendek atau 'rentetan' kerja yang diselingi istirahat, yang dapat membantu menyegarkan dan memfokuskan pikiran kembali.

Struktur dasar dari siklus kerja Pomodoro, sebagai berikut;
  • Sesi 25 menit pertama menyelesaikan tugas menulis (pastikan menyetel pengatur waktu)
  • Istirahat sejenak (biasanya sekitar lima menit)

  • Sesi 25 menit kedua.
  • Istirahat sejenak.

  • Sesi 25 menit ketiga,
  • Istirahat sejenak, lagi.

  • Sesi keempat 25 menit.
  • Istirahat lebih lama (biasanya 20 hingga 30menit).

Pomodoro sangat mudah diterapkan bagi penulis pemula.  Rentetan sesi waktu menulis selama 25 menit, memiliki banyak manfaat dan benar-benar dapat membantu mengasah fokus, mengurangi gangguan, dan mendapatkan banyak kosakata. Juga membuat kebiasaan baru dalam memanajemen waktu. Pomodoro juga fleksibel, tidak harus seperti batas waktu yang dicontohkan di atas. Sesuaikan dengan kapasitas masing-masing. Mungkin hanya bisa menulis selama 15-25 menit atau bisa lebih lama di sesi 45 menit yang diselingi jeda sedikit lebih lama.  Cobalah beberapa variasi dan terus perhatikan kemajuannya, kamu akan dapat memperbaiki teknik Pomodoro yang sesuai dengan kapasitas-mu. Jadi, ambil timer atau unduh aplikasi Pomodoro, cobalah! Usahakan untuk tidak terhubung ke internet karena dapat memecah konsentrasi.


2. Freewriting.

Jika kamu sering terjebak di zona writter block atau tidak dapat memulai ketika merasa mood dalam keadaan buruk. Cobalah teknik yang disebut freewriting atau menulis bebas. Freewriting melibatkan pelepasan semua pembatas dan menulis secara terus menerus dalam waktu yang singkat dengan cara 'stream-of-consciousness'.  Pada dasarnya, tujuan freewriting adalah menulis apa pun yang muncul di pikiranmu, tanpa mengkhawatirkan tata bahasa, ejaan, atau bahkan kata-kata yang tak masuk akal.  Kamu dapat menulis kata apa pun secara harfiah: fragmen kalimat, narasi, deskripsi, dialog, pikiran konyol, atau kata-kata acak ...  Jangan takut! Tulis apa saja dan keluarkan semua yang ada di pikiranmu. Hal terpenting tentang freewriting adalah kamu tidak boleh berhenti memikirkan hal-hal yang berlebihan.  Jika kamu mulai kehabisan hal-hal untuk ditulis, kamu harus tetap menulis sesuatu seperti; "Aku tidak tahu apa yang harus ditulis, lagi." ... atau bahkan pemikiran acak seperti  "Makan kue kering ditemani secangkir teh, kalau tulisan ini selesai." Tulis semua yang ada di pikiranmu hingga bergeser dan sesuatu yang lebih penting mulai datang; misalnya sholat atau telepon berdering. Buang lah bagian yang tak dapat digunakan, nanti ketika menyuntingnya. Tetapi itu bukanlah inti dari teknik freewriting.  Intinya tetap buka pikiranmu, lewati apa pun yang menghalangi dan tumpahkan semua pemikiran kreatif sehingga mengalir bebas ke lembar ceritamu. Ingat! Tidak ada yang melihat tulisanmu dalam sesi freewriting. Kamu bahkan boleh tidak membaca kembali tulisan yang telah kamutulis. Freewriting sering diselesaikan dengan tangan, tetapi kamu bisa juga menggunakan komputer-mu. Cobalah setiap metode di atas agar bisa melihat kiat yang membuat kreativitas-mu mengalir dengan baik.  Agar lebih seru, gabungkan teknik freewriting dengan metode Pomodoro.  Gunakan freewriting dalam beberapa tulisan di bagian pertama, sebagai bentuk pemanasan kemudian pindah ke sesi menulis 'biasa' setelah kamu merasa siap.




3. Dikte.

Agar mengguncang segala kebiasaan, berikutnya, coba berbicara dengan tulisanmu?

Ha! Bagaimana bisa?

Kamu bisa berbicara tentang apa pun dengan tulisanmu menggunakan dikte!

Tidak mengherankan bagi banyak penulis, kata-kata mengalir lebih baik dari tangan daripada suara yang dikeluarkan dari mulut.

Tetapi, bersuara mungkin dapat mengejutkan, coba berbicara dengan ceritamu sebelum menulisnya, sebagai bentuk perubahan.

Berbicara lah dengan suara keras!

Karena itu merupakan cara yang sudah teruji dan telah sangat teruji dalam meningkatkan penjiwaan dialog.

Pertama-tama berikan kesempatan di setiap adegan dialog. Penulis buku terlaris Joanna Penn menulis kembali tulisannya dengan cara dikte setelah merekam suaranya sendiri.

Joanna Penn
"Aku mendiktekan naskah pertama novel terakhirku ... dan itu merupakan proses penciptaan yang jauh lebih cepat daripada konsep pertama yang biasanya sering kulakukan,"  kata Penn.

"Aku melakukannya dalam kurun waktu 27 hari menulis (sekitar lima minggu berlalu) dan beberapa hari, kemudian aku mendapatkan hingga 5000 kata per jam dengan dikte ... ." Penn meyakinkan.

"Suara tulisanku telah berubah melalui proses dikte, dan mungkin membuat ceritaku lebih segar dan dialognya lebih jelas. Dikte merupakan cara yang mudah sebagai teknik menulis-lisan." 

Rekam dirimu saat berbicara dan catat rekamannya nanti.

Dikte merupakan metode yang lebih sederhana. Cobalah terlebih dahulu sebelum memutuskan teknik menulis yang cocok.

Lakukan perekaman suara sendiri di ponsel, kemudian dengarkan kembali rekaman dan ketik suara itu.

Kamu dapat memasukkan tanda baca yang tepat saat sedang merevisinya atau pilih saja mana yang paling cocok digunakan.

Jika menulis kembali rekaman dikte terdengar terlalu melelahkan atau kamu tidak punya waktu. Gunakan aplikasi yang dapat merubah suara menjadi kata. Tentu, itu tidak gratis.


Sebelum mulai merekam, cobalah menyusun outline untuk beberapa adegan atau bagian yang akan kamu dikte sehingga memiliki struktur/skenario di setiap sesi merekam agar pembicaraan tetap terarah.

Coba miliki rencana sehingga rekaman tidak bertele-tele atau kehilangan pikiran. Katakan saja, jangan khawatir harus berbicara dengan sempurna atau sangat fasih. 

Cukup ucapkan kata-kata yang mengalir sehingga menghasilkan cerita yang dapat ditulis, nantinya.

Hal terbaik menggunakan metode dikte ialah, bisa lebih efektif dan fleksibel ketika ingin menulisnya.

Karena, kamu sudah mempunyai sesuatu yang harus ditulis dan dapat diubah jika ada ide baru.

Cobalah rekam suara saat kamu gabut, sedang membersihkan rumah atau sedang sendirian.

Sekarang! jangan lagi berbicara dengan tembok, rekam ide-mu dan catat nanti!


4. Menulis Tidak Teratur.

Bagi banyak penulis, pemikiran tentang menulis novel berarti harus mulai dari awal hingga akhir. 

Tapi, jika kamu kesulitan berjuang  menulis novelmu secara kronologis atau berurutan. Coba saja menulis adegan yang tidak teratur.

Seperti menyusun puzzle, kamu menulis semua adegan yang kamu mau. Kemudian, susun serakan cerita itu, nanti.

Misalnya,

Kamu punya ide bagus tentang bagian klimaks yang dramatis di akhir cerita. Tapi, kamu baru menulis bagian pertama.

Tak masalah! Tinggalkan bagian cerita itu sementara dan tulis titik klimaksnya.

Teruslah memikirkan potongan dialog, pengembangan karakter, atau deskripsi tempat yang tidak sesuai dengan adegan. 

Luangkan waktu menulis dan kembangkan saat kamu berada di 'zona nyaman'. 

Teknik menulis seperti ini, telah dipraktekkan oleh penulis bernama Susan Dennard.


Susan Dennard
"Aku selalu berpikir bahwa aku harus menulis sesuai kronologis. Maksudku, dengan duduk saja dan menulis apa yang ada di kepalaku,'' kata Denn.

"Aku juga harus membuat outline terlebih dahulu dan tulis apa yang kurasa harus ada di adegan ... ." Dennard menjamin.

"Namun, ketika kumengikuti metode ini, aku menemukan bahwa outlineku sangat rusak . Tak satu pun dari pukulan adegan tampaknya memukul dan sesuai," angguk Dennard.

Metode ini berguna untuk menghindari writer block, atau ketika mengalami kesulitan menulis adegan tertentu. 

Pindah lah ke sesuatu yang mengalir lebih mudah agar dapat memanfaatkan waktu dan jauh lebih produktif daripada fokus di bagian yang tidak berfungsi.

Hal ini seperti mengerjakan soal ujian, jawab pertanyaan yang mudah dan selesaikan yang sulit, nanti.

Cara ini sangat cocok dipadukan dengan teknik menulis Freewriting dan Pomodoro.

Gunakan 'Catatan' di ponselmu atau Ms Word karena dapat membuat dokumen baru di setiap adegan, dan mudah mengaturnya kembali, nanti.

5. Menulis dan Merevisi Secara Bersamaan.

Saat kamu menulis, beberapa saran paling umum yang akan kamu dengar adalah ... "Tulis sekarang dan edit-nya nanti."

Cukup keluarkan kata-kata di lembar cerita, tanpa mengkhawatirkan kualitas; agar terus mendorong tanpa kembali membaca atau mengeditnya.

Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tidak semua penulis sama dan metode ini mungkin tidak berfungsi untuk beberapa orang seperti yang dilakukan oleh orang lain. 

Kamu mungkin harus mencoba menulis dan merevisi secara bersamaan, jangan menulis outline, cukup tulis dan kembali memperbaikinya nanti. 

Sebab, tidak semua orang dapat menyusun outline dan memanfaatkannya. Karena, dalam menyusun alur, penulis dikategorikan dalam tiga ragam.

Bacalah artikel berikut ini untuk mencari tahu lebih luas.


Metode satu ini, melibatkan adegan atau bagian dari novelmu hingga kamu senang dengan hasilnya.
Jelas cara ini merupakan sebuah proses menulis naskah yang lebih lambat.

Cara ini akan menghabiskan waktu yang lebih banyak agar mendapatkan adegan yang tepat.

Tetapi, metode ini juga sebuah proses penyuntingan dan revisi yang akan jauh lebih mendalam, sebab kamu melakukannya dengan perhitungan yang baik.

Walau masih ada hal-hal yang perlu dipoles, tetapi jauh lebih sedikit daripada menulis dengan teknik Freewriting

Penulis Laini Taylor menggunakan metode penulisan sambil revisi di antara buku-buku terlarisnya:


Laini Taylor
"Aku harus benar-benar mencintai setiap bab sebelum harus melanjutkannya. Segera setelah kumerasakan ada sesuatu yang salah, aku harus memperbaikinya!" "... cara itu bisa terasa sangat lambat, tetapi hasilnya bagiku justru lebih dekat dengan outline yang sudah selesai kususun, dan proses revisi menjadi pekerjaan yang menyenangkan hanya dengan mengambil sesuatu yang kamusukai dan membuatnya lebih kuat," kata Laini. Semuanya kembali pada bagaimana kamu nyaman sebagai penulis. Tidak ada cara yang benar atau salah dalam teknik menulis buku.

Akhir Kata:

Sebagai bagian penutup, kuucapkan terima kasih. Ada kecocokan antara metode yang satu dengan yang lainnya. Ada penulis yang dapat mengombinasikan lebih dari dua metode, menjadi metode baru. Intinya, cari cara yang benar-benar membuatmu produktif. Selamat mencoba. Tetap semangat menulis! Teruslah menulis. EvandoTM WeWeDogom.Com

Komentar, Kritik dan Saran dari kalian adalah semangat untuk kami.

Klik di sini