4 Hal Menjadi Penulis ala Tere Liye (Disertai QnA).


www.WeWeDogom.Com -- Tere Liye merupakan seorang penulis yang lahir di kota Lahat. Karya tulisnya sudah tidak diragukan lagi. Bahkan beberapa di antaranya sudah diangkat ke layar kaca.

Hafalan Sholat Delisa menjadi film pertama yang diangkat dari novel yang bertajuk sama karya Tere Liye.

Nah! Pada kesempatan kali ini, pengarang buku bertajuk Hafalan Sholat Delisa itu akan mengajak kamu berbincang sejenak dengan 4 hal yang membuatmu menjadi seorang penulis.

Apa saja sih?


Kata Tere Liye, ada beberapa hal yang dapat membuat kamu menjadi seorang penulis;

1. Sudut pandang yang spesial.

2. Amunisi yang banyak.
3. Latihan menulis.
4. Membiasakan diri.

Mari bahas satu-persatu, hal-hal yang disebutkan di atas. Dimulai dari;


SUDUT PANDANG YANG SPESIAL.

Boleh menulis tentang apa saja, asal sudut pandang yang akan disajikan, spesial. Misalnya mau menulis tentang jalur-jalur angkot.

Mungkin menurut orang lain itu persoalan sepele, tapi kalau menurut seorang penulis, itu hal spesial. Maka akan jadi spesial lah tulisan itu.

AMUNISI MENULIS.

Ketika menulis sesuatu, maka persiapkan dulu riset agar dapat mengenali lebih banyak tentang hal yang ingin ditulis.

Tulisan tidak akan bernafas kalau amunisi di kepala kita, sedikit.

Riset sangat dibutuhkan, meskipun saat menulis cerita pendek. Lengkapi riset tersebut dengan hal-hal yang menarik. Masukkan unsur-unsur yang menggelitik dan autentik.


Mengamati, memperhatikan, bertanya hal-hal kecil kepada orang yang ditemui, atau tempat yang pernah dikunjungi juga hal penting. 

Tere Liye bertanya, "Pernahkah kalian berpikir untuk bertanya pada pelayan Indomaret? Misalnya tentang apa barang yang paling 'best-seller' di toko ini?"

"... atau pernahkah kalian iseng bertanya kepada tukang angkot. Apakah ada artis yang pernah naik angkotnya?" sambungnya sambil tersenyum.

Dari semua kejadian itu, kamu sudah melakukan sebuah riset. Hal-hal itulah yang bisa memperkaya tulisanmu.


Semua orang bisa menulis, tapi apakah tulisan itu akan jadi spesial? 

Inilah yang membedakannya.

Jangan beralasan tidak tahu mau menulis apa. Taklukkan kelemahan itu dengan banyak-banyak mengisi amunisi -- mengisi bahan riset, misalnya.

Jangan tertele-tele dengan memainkan koma.

Orang yang terlatih bicara, akan lancar bicara. Beda yang dengan orang yang tidak, maka dia akan bicara "...ng...ng..ng," Tere mencontohkan.


LATIHAN MENULIS.

Banyak orang yang bingung, ending-nya harus bagaimana? Hal itu sangat wajar.

Bahkan seorang Tere Liye sekali pun sering kehabisan ide ketika menulis.

Biasanya Tere Liye menutup novel yang kehabisan ide itu dengan kalimat gantung dan kata 'TAMAT'.

Hasil itu tetap dikirim ke penerbit, ternyata malah benar-benar terbit. Bahkan novel-novelnya justru mulai difilmkan.

Menurutnya, tidak ada tulisan yang baik atau buruk.

Tere Liye mencontohkan surat penolakan dari redaksi sebuah koran terhadap tulisan-tulisan yang pernah dikirimnya. Seperti berikut:


Dari sekian banyak penolakan, redaksi tak pernah membuat alasan bahwa sebuah tulisan itu jelek. 

Jika seseorang terus berpikiran negatif terhadap tulisannya, maka dia tidak akan pernah menjadi penulis yang baik. 

Menulis itu harus dilatih. Novelis sekaliber Andrea Hirata sekali pun, tidak lah sempurna.

Menurut Tere Liye, temannya sampai sekarang tidak mengerti apa yang ditulis Andrea. "Novel tentang apa sih, ini?" begitu katanya. 


BISA KARENA TERBIASA.

Tere Liye sangat menyukai masakan Ibunya. Dia pernah bertanya kepada Ibunya, bagaimana cara memasak masakan kegemarannya itu. Apa jawab Ibunya? 

"Sudah dimakan saja. Kok nanya-nanya."

Karena Tere memang mencintai masakan Ibunya itu. Dia tanya lagi. Jawabannya Ibunya berubah begini:

"Ya, tinggal dimasukkan ke wajan."

Kemudian, Tere Liye tanya lagi. Ibunya merasa heran, tapi akhirnya Ibu Tere mulai menjelaskan urutan-urutan memasaknya.

Filosofinya, seorang ibu rumah tangga yang pintar memasak sekali pun, tetap memerlukan latihan di dalam hidupnya.
• Bulan pertama, pasti akan memasak sambil melihat resep.
• Satu tahun pertama, sudah mulai hapal.
• Satu tahun lebih beberapa bulan, maka si ibu rumah tangga itu sudah tahu cara memasak yang baik.
• Bahkan, dia sudah bisa berbagi tips memasak dengan orang lain.

Dalam menulis pun, 'Sama!'. Ada relevansinya. 

Setiap orang mungkin berhasil menulis. Tapi yang jarang diketahui adalah, bagaimana sepak terjang penulis itu?

Tere Liye mengumpamakan dirinya sendiri. Ketika pertama kali menulis artikel dan dikirim ke Koran Kompas, dua puluh kali memperoleh penolakan dengan berbagai catatan dari redaksi.

Tetapi, ketika tulisannya nongol di koran itu dan tak sengaja bersanding dengan tulisannya Bapak Emil Salim (waktu itu).

Banyak senior Tere Liye yang kagum padanya. Padahal, para senior tidak tahu seberapa pahitnya berpuluh penolakan tadi. 

Begitu juga ketika Tere Liye mengirim naskah novel religiusnya yang berjudul 'Hapalan Salat Delisa' ke dua redaksi besar. Salah satunya Mizan, namun ditolak.

Begitu pun dengan penerbit raksasa Gramedia. Akhirnya, dia mencoba mengirim ke penerbit Republika. Ternyata gayung bersambut.

Kini Tere Liye bekerja sama dengan penerbit Republika dalam naskah religiusnya, dan non-religius dipercayakan kepada Gramedia.


Sesi Tanya-Jawab.

• Mengapa Tere Liye mengatakan tidak ada tulisan yang buruk atau yang baik?

• Jika demikian, lalu kenapa tulisan bisa ditolak?

• Bagaimana dengan sebuah lomba menulis?

"Terhadap sebuah tulisan, jika editornya berbaik hati, maka mereka akan mengirimkan alasan penolakan seperti ini," jawab Tere sambil memberikan contoh.

1.1. Struktur naskah kacau balau,
1.2. Tulisan biasa saja,
1.3. Tidak relevan dengan koran/majalah tersebut,
1.4. Tulisan bagus tapi cara penyampaian, dsb.

Dalam sebuah lomba, perlu ditentukan pemenang. Oleh karena itu, juri biasanya akan kembali ke kriteria yang sudah mereka tentukan sebelumnya.

Suatu kali di sebuah workshop, aku -- Tere Liye -- mendapat pertanyaan serius dari seorang guru.

Dia bertanya, "Kalau semua tulisan tidak ada yang buruk, bagaimana saya akan memberi ponten -- nilai? Masa harus diberi nilai delapan semua."

Tere Liye menjawab, "Ya tidak apa-apa Bapak memberi nilai delapan semua. Justru akan memotivasi anak. Toh bukan sebuah lomba, namun meningkatkan keinginan mereka menulis. Bukankah pada level anak-anak SD hal itu jauh lebih penting?"


• Kalau sedang menulis, tiba-tiba alur cerita jadi ngaco. Kemana-mana. Bagaimana mengatasinya?

Tere Liye menyemangat, "Gampang sekali! Coba cek lagi, sebenarnya kamu mau menulis tentang apa? Kalau tema kamu adalah 'curhat', ya sah-sah saja kalau isinya jadi kemana-mana. Bahkan jadi ngaco sekali pun. Tapi kalau niatnya menulis tesis atau skripsi, ya harus ada rangkanya dong."

Orang yang terbiasa menulis, sudah tak memerlukan rangka khusus.

Di kepalanya sudah ada awal, tengah dan ending cerita. Bagi yang belum terbiasa, tak menjadi masalah kalau rangka cerita dibuat dan ditempel di depan komputer.

Jadi pas mengetik keliatan mau kemana cerita itu akan dibawa.

Lain lagi ketika cerita mulai masuk ke penerbit. Kamu akan bertemu dengan editor.

Bisa jadi menurut editor naskahmu harus 'diluruskan'. Padahal menurutmu, mungkin naskahmu nggak ngaco.

Jika demikian, jangan jadi bete lantaran editor meminta naskahmu diluruskan.

Berikan saja kepada dia sebagai ahli dan tugasnya. Tanyakan pendapat dan belajar dari dia. 

Kebanyakan dari penulis muda itu, 'Galau'.

Naskah ditolak sekali aja 'Galau'. Lalu ngambek dan memilih diterbikan Indie.

Kayaknya, 'Galau' banget kalau naskahnya yang baru sebiji nggak muncul ke permukaan publik.
Please deh...

Tere Liye sendiri tidak pernah ikut campur ketika tiga novelnya difilmkan.

Diserahkannya sepenuhnya kepada produser. Karena dia tak pernah mau menghabiskan waktu berdebat dengan produser.


• Bagaimana menulis tentang ekonomi, politik, sosial budaya ke dalam novel? Mungkinkah pembaca akan tertarik?

Tere Liye menjawab, "Kalian pasti tahu ya novel 'Da Vinci Code' atau katakanlah karya milik Andrea Hirata."

Menulis fiksi akan makin menarik jika dibumbui dengan hal-hal berbau ekonomi, sosial dan lain-lain.

Penulis bisa memasukkan unsur 'logic' ke dalamnya dan pembaca akan larut. 

Tere Liye sendiri tidak paham soal hal-hal yang tertulis di novel Da Vinci Code. Tapi justru Tere menjadi penasaran agar terus membacanya hingga selesai. 

Pernah suatu kali, pada kegiatan workshop buku-bukunya juga, seorang anak berusia 8 tahun datang membawa novelnya.

Judulnya 'Negeri Para Bedebah!' Novel tentang dunia korupsi.

Tere Liye heran dan bertanya pada anak itu, "Kamu membaca ini, Nak?"
"Iya, Bang."
"Kamu mengerti isi novel ini?" tanya Tere.
"Tidak! Tapi aku suka, ada kejar-kejarannya." jawab polos anak tersebut, senyum di wajahnya terlukis jelas.

Itulah pembaca. Biarkan pembaca yang menilai buku itu.


• Apa itu orisinalitas sebuah tulisan?

Kata Tere, "... ambil perbandingan ya. Kalian kenal 'Pochahontas'? Lalu, cerita 'Avatar'?"

Keduanya memasukkan unsur; ada sebuah tokoh yang datang ke sebuah tempat.

Di situ bertemu dengan seorang gadis. Lalu jatuh cinta. Tetapi timbul konflik dsb.

Keduanya orisinal, meski pun cara berceritanya, mirip. Tak sedikit orang menulis novel yang isinya nyaris sama, padahal keduanya tak saling mengenal.

Maka, masalah orisinalitas hanya kita (penulis) yang tahu atau ada pembaca yang bisa mengenali apakah tulisan kita itu orisinal atau plagiat -- lantaran dia pernah membaca cerita yang sama sebelumnya. 


• Jika sering ikut-ikutan gaya penulisan orang lain, bagaimana mengantisipasinya?

"Sering-sering membaca, mendengar atau memahami pendapat orang lain. Jangan cuma menelan kalimat yang kita baca bulat-bulat. Lakukan riset dan perbandingan pendapat." jawab Tere, menegaskan.


• Bahasa yang dipakai sebaiknya yang pendek-pendek atau yang panjang-panjang?

"... dikembalikan pada selera masing-masing. Saranku, belajarlah menulis yang efektif. Seperti menulis di twitter. Singkat tapi memuat makna yang dalam. Tapi, kalau mau menulis kalimat yang panjang, minimal 8-12 kata ya."

Nasihat terakhir dari Tere Liye:

"Tulis! Tulis dan Tulis saja."

Nah! Demikianlah uraian yang cukup panjang dari yang bisa kurangkum.
Salam persahabatan selalu dari Bandung
~Novi.

Credit : Artikel ini diambil sepenuhnya dari Blog Mbak Novi yang sudah di-publikasi-nya pada tahun 2013.

Aku tidak meminta izin atau memberitahunya.

Jadi, sekali lagi. Ini bukan ketikanku, melainkan mbak Novi di Bandung yang sudah mempublikasikannya pada tahun 2013.

Tetap semangat! Teruslah menulis.

© Evando TM.
® WeWeDogom.Com