Trik Praktis Menulis Novel [#2]

WeWeDogom.Com -- Apakah kamu sedang menulis novel pertamamu atau sedang berjuang menyelesaikan yang kedua -- atau lebih?


Terkadang kamu memerlukan sedikit bantuan agar dapat memusatkan perhatian dan memikirkan bagaimana menyelesaikan novelmu.

Nah! Aku pernah memberikan beberapa trik sebelumnya di Trik Jitu Menulis Novel. Sekarang, aku ingin menambah beberapa trik lagi.

Tapi sebelum itu, izinkan aku menyapa kalian semua.
Sumber : Zeppeto.
Terima kasih atas dukunganmu terhadap situs kecil ini. Aku senang bila kamu mendapatkan informasi dari situs' 'mengerikan' ini.

Jangan segan dan enggan untuk membagikan artikel ini ke temanmu -- kalau kalian punya teman -- jika kamu rasa artikel ini bermanfaat. 

Selanjutnya, mari mulakan saja.

Catatan : Sembilan trik ini dapat membantu kamu melangkah sesuai langkah yang kamu inginkan dari kalimat pertama hingga bagian akhir novel.

1. Temukan Akhir Cerita.

Salah satu kesalahan terbesar yang pernah kubuat saat menulis novel pertamaku ialah, terlalu menghabiskan banyak waktu mengola kata sebelum memahami alur cerita.

Aku tidak tahu apakah kata-kata dan kalimat yang 'kupijak' mendukung cerita atau tidak. Karena aku tidak tahu bagaimana cerita yang kutulis, berakhir.

Akhirnya, aku membuat poster besar bertuliskan: "MENDAPATKAN AKHIR KISAH-NYA" dan menempelkannya ke dinding di hadapan meja kerjaku.

Trik sederhana ini membantuku mendorong maju sampai akhir. Lagi-lagi, ternyata 'Outline' sangat membantu. Seperti yang sudah kutulis di artikel di sini; "Tentang Pentingnya Outline".

2. Tulis'naskah' Sebentar dan Tuliskan Sesuatu yang Lain.

Setelah lima setengah tahun bekerja keras dalam membuat novel, aku secara tidak sengaja mengesampingkan delapan belas bulan menulis 600 halaman materi hanya untuk sebuah novel tanpa akhir.

Kupikir tulisanku ini sudah mati.

Suatu hari, dengan sadar  aku membuka file lama dan mulai membacanya dari awal.
Apa yang aku temukan? 

Naskah lamaku, kunikmati sebagai pembaca dan bukan sebagai penulis. Aku tidak hanya menganggap bahwa, aku menyukai apa yang telah kutulis, aku juga melihat di mana letak kesalahannya dan bagaimana harusnya berakhir.

Sepuluh bulan setelah penemuan itu, aku menyelesaikannya.

3. Atur timer selama empat puluh lima menit, kemudian istirahat lima belas menit.

Ini adalah trik yang muncul dari riset kreativitas dan yang pertama aku dengar dari penulis bernama Ellen Sussman.

"Saat kamu duduk kemudian menulis, atur timer selama empat puluh lima menit." katanya.

Paksakan dirimu memulai meletakkan kata-kata di halaman dengan segera, dan jangan berhenti sampai timer padam -- bahkan jika kamu harus menulis tentang cuaca.

Kemudian, atur ulang timer selama lima belas menit. Selama jeda, jangan cek sosial media; lakukan sesuatu tanpa berpikir seperti makan atau berjalan keluar rumah sambil menghirup udara segar atau memberi makan otakmu dan hewan peliharaan -- relax!

Meditasi atau mendengarkan musik mungkin bagus.

Trik ini membebaskan alam bawah sadar kamu untuk mengatasi masalah yang lebih besar di dalam naskah.

Kamu akan menemukan bahwa ketika kamu duduk lagi selama sesi empat puluh lima menit yang kedua, kamu pasti sudah menemukan terobosannya lagi.
Baca Juga : Langkah Menulis Novel yang Mudah & Menyenangkan.

4. Sebutkan tujuan menulis yang benar-benar berada dalam kendalimu.

Beberapa penulis menetapkan jumlah kata atau hitungan halaman setiap hari; Aku merasa lebih mudah untuk berkomitmen pada jumlah waktu yang kuhabiskan untuk menulis setiap hari.

Jika aku terganggu oleh keributan yang lain, aku selalu bisa berjam-jam menulis di malam hari jika malam menjadi waktu yang kudapatkan dalam ketenangan.

Aku menetapkan tujuan dari tiga jam penulisan (45 menit, 15 menit) per hari, lima hari seminggu.

Aku mencatat jam di buku diary-ku yang selalu ada di sebelah mejaku, dan ketika mencapai waktu yang sudah dijanjikan, aku sudah mencapai tujuanku -- Ya! Berkomitmen.

5. Buatlah puisi yang sedang berkembang di desktop kamu.

Menyelam ke novelmu di pagi hari bisa terasa menakutkan. Salah satu trik yang telah kupelajari adalah menyimpan puisi dalam notepad/Ms. Word di desktopku.

Aku tidak pernah mencoba menerbitkan puisiku -- karena kupikir, aku bukanlah seorang Pujangga --  jadi tidak ada tekanan agar menulis dengan baik.

Aku bebas bereksperimen, dan latihan itu melonggarkan pikiran menulisku serta membuatku bekerja dengan kata-kata.
Aku biasanya sadar setelah lima menit mengerjakan puisi itu, tiba-tiba sebuah kalimat yang tepat harusnya diterjunkan ke proyek yang lebih besar.


6. Atur retret° tulisan bergaya sendiri.

Sumber : Wikipedia.
Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk dapat menulis, terkadang ada seseorang yang dapat menulis dalam keadaan sepi atau sedang di tengah keramaian.

Bahkan teknik menulis mereka juga berbeda-beda. Itu sebabnya, tentukan gaya menulismu yang dapat membuatmu nyaman.

7. Baca novel lain, bukan cerita pendek.

Penulis kreatif di tahapan awal sering didorong agar membaca dan menulis cerita pendek.

Ini masuk akal, karena kamu harus mulai dari hal kecil dan menguasai seni mengilustrasikan -- mungkin menggunakan imajinasi atau kata-kata.

Tapi, bentuklah cerpennya memiliki senjata khusus yang ada di kepalamu, maksudnya ... sesuai dengan apa yang kamu lihat dan bisa membuatmu menulis sesuatu lebih lama.

Dengan sebuah novel, kamu harus melawan dorongan menyelesaikan semuanya; kamu harus membiarkan dirimu bergerak maju tanpa arah yang jelas dalam waktu yang lama.

Batasi dirimu, hanya boleh membaca novel lain saat kamu berada di tengah-tengah pekerjaan di tulisan yang baru dibentuk.

8. Tuliskan 1.200 kata dalam halaman untuk mendapatkan 300 kata.

Dalam sebuah posting brilian di blog Powell's Books, Joshua Mohr berpendapat bahwa kamu mungkin memerlukan 1.200 kata dalam tulisan untuk mendapatkan 300 kata yang telah selesai.

9. Temukan tiga pembaca terpercaya, jangan hanya satu.

Jadi saat kamu siap, temukan tiga pembaca tepercaya yang akan meninjau draf-mu secara bersamaan. Jangan membaca kritik mereka sampai kamu memiliki ketiganya. 

Dengan begitu, kamu tidak akan hancur jika satu orang tidak menanggapi seperti yang kamu harapkan.

Kamu akan bisa memilih dan memilah saran yang paling sesuai denganmu, ini adalah novelmu.

Masukan sangat penting, namun pada akhirnya, kamu harus menyaringnya dan setia terhadap suaramu sendiri.

Sebagai Pelengkap : 
Menentukan tujuan dan merubah kebiasaan dapat membantu kamu mengubah cara berpikir. Dari yang awalnya hanya menulis untuk mengisi waktu luang, kini bertujuan untuk menyelesaikan.

Karena, lebih baik menyelesaikan satu naskah ketimbang memiliki banyak ide yang terbengkalai. Tak perlu hasilnya buruk atau baik. Yang terpenting, kamu menyelesaikannya.

Terima kasih karena sudah membuang waktu di sini.

Semangat menulis! Terus menulis.

© WeWeDogom.Com
® EvandoTM.