Tentang Prolog : Pentingkah? Begini Cara Mengeksekusinya.


www.WeWeDogom.Com -- Prolog merupakan bagian pembuka cerita yang digunakan untuk memperkenalkan cerita.

Prolog juga digunakan sebagai pendahuluan peristiwa.

Prolog menjadi tampilan awal di bagian cerita. Prolog dapat dieksekusi dengan melatih keterampilan.
Tapi, apakah prolog itu perlu?

Menurut pendapatku -- yang menimbulkan pertanyaan terbesar di dalam pikiran;
"Haruskah aku menulis prolog?" dan, "Apakah prolog akan memperbaiki ceritaku?"

Nah, lantas! Apa sih prolog itu?
Seperti yang sudah kutuliskan di bagian awal. Prolog datang sebelum bab satu dan bisa menjadi bagian eksposisi atau prosa pengantar.

Prolog, juga dapat digunakan sebagai pengungkap latar belakang dan menjadi pengenalan situasi awal karakter.

Agar dapat membuat prolog yang tidak disukai pembaca, saran dari Stephen King, tempatkan diri sebagai pembaca agar dapat menilai.

Saat mulai membaca sebuah prolog. Aku biasanya tidak sabar segara menuju ke bab satu.

Bila bagian akhir dari prolog itu bagus, hal itu akan membuatku bertanya-tanya tentang kisah selanjutnya.
Baca Juga : Trik Menulis Novel Khusus Tingkat Pemula.
Secara pribadi, dalam mata pembaca. Prolog membuatku bersemangat agar lekas melihat, cerita yang sesuai dengan apa yang sudah membuatku penasaran.

Prolog yang ditulis dengan baik -- ingatlah itu! -- akan dikenang dan membuat pembaca merasa 'cerita ini layak dibaca!'

Sedangkan prolog yang buruk, akan di-skip begitu saja ... Seperti Story Instagram/WhatsApp-mu yang di-skip begitu saja.

Jika kamu menghadiri pertemuan komunitas menulis, kamu mungkin akan memerhatikan Redaksi Penerbit yang menyuarakan ketidak-sukaan mereka terhadap prolog.

Beberapa, bahkan akan melihat detail halaman prolog di naskah yang dikirim, mereka akan segera mewaspadai cerita dan mempertimbangkan pengajuan tersebut.

Mengapa 'reaksi' redaksi terhadap prolog langsung negatif?
Hal utama, disebabkan oleh prolog yang disajikan dengan tidak baik, mengotori bagian awal dan menghancurkan 'mood' penerbit -- apalagi pembaca.

Kamu tak perlu terkejut, karena sudah banyak penulis yang melakukan kesalahan di bagian prolog.
Nah! Agar pembacamu tidak memiliki reaksi yang  sama seperti reaksi redaksi penerbit.

Berikut, ada 'Larangan Dalam Mengekspresikan Prolog!' -- disajikan khusus, untuk kamu.


1. Menggunakan Prolog Sebagai Wadah Penampungan Informasi.

Kesalahan peletakan informasi merupakan salah satu cara termudah membuat mata pembacamu melinangkan air mata.

Paragraf yang memberikan banyak informasi latar belakang -- walau pun penting, jika ditampilkan di tempat yang salah, justru malah membuatnya sulit dicerna.

Tanpa menuangkan informasi secara strategis sepanjang satu adegan atau sepanjang bab -- buku, pembaca dapat segera menutup bukunya dan mengakhiri ceritanya.

Belum lagi, halaman pembuka merupakan momen make-or-break -- Gaet atau Hancurkan!
Kamu hanya memiliki beberapa detik agar berhasil menggaet pembaca atau penerbit -- yang juga pembaca! -- bergairah dengan apa yang akan kamu persembahkan.

Banyak! Banyak penulis menggunakan prolog sebagai sarana memberikan banyak informasi latar belakang pada sebuah cerita.

Padahal, akan lebih efektif apabila diberikan secara perlahan ... mengenalkan elemen-elemen ini dengan cara menenunnya ke dalam adegan di seluruh alurnya.

Lihatlah lebih dekat ke halaman pembukamu, lihat!
Apakah kamu memiliki beberapa peregangan paragraf atau bagian yang melakukan kesalahan itu?
Jika kamu  menemukannya, berarti saatnya merevisi!

Jika kamu menuangkan banyak informasi di sana, ceritamu justru hanya akan dapat disimpulkan dalam satu halaman ... ya! Halaman prolog.
Baca Juga : Menciptakan Paragraf Pertama yang Atraktif.

2. Prolog yang Membosankan (Pembaca akan segera 'melompat' ke bab satu).

Sudah jelas, penulis tidak akan mau menulis prolog yang berisi,
Adegan dan Informasi hambar tanpa tindakan dan penjelasan yang berhubungan dengan alur.

Jika adeganmu tidak memiliki tindakan atau tujuan yang mendorong ceritamu, kamu mungkin sudah jatuh ke dalam 'Prolog Membosankan!'.

Lihatlah naskahmu lagi dengan mata kritis pembaca dan tanyakan;
"Apakah aku akan melewatkan prolog ini dan langsung menuju bab satu?"

Jika demikian, pertimbangkan apa yang bisa kamu lakukan agar dapat mengatasi hal-hal tersebut -- sekaligus menjaga agar prolog sesuai dengan kebutuhan cerita.

3. Sebuah Prolog yang Tidak Ada Hubungannya dengan Inti Cerita.

Prolog harus menggerakkan atau mempengaruhi alur utamamu.
Jika prologmu penuh dengan adegan, berikan beberapa potongan informasi latar belakang. Hal itu, membuat prolog menjadi tidak hambar.

Jika kamu membuat adegan yang menarik tapi tidak relevan dengan plot utamamu, kamu sepertinya harus memikirkan ulang strateginya.

Tidak masalah jika tulisanmu solid, asalkan visualisasinya berjalan dengan baik ke arah alur cerita yang telah dirancang -- yang menggambarkan perjalanan emosional karakter, menunjukkan taruhan bagi si protagonis dan dunia pada alurnya.

4. Prolog yang Terlalu Panjang.

Pembaca di era modern, lebih sering menyukai bab yang lebih pendek -- juga prolog yang pendek.

Jika prolog lebih panjang dari kebanyakan bab, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali struktur bab-mu.

Prolog, seperti yang sudah disebutkan di atas. Merupakan momen 'make-or-brake'. Nah, di momen inilah kamu harus benar-benar menjaga 'mood' pembacamu.

5. Tidak Menggunakan Prolog Sebagai Penghubung antara Pembaca dan Alur.

Sebagai contoh; Aku, secara khusus memikirkan prolog yang membuat pembaca masuk ke dalam situasi -- dan memikirkan, berhasilkah prolog-nya?

Mungkin adegan di bagian prolog bisa menjadi pusat 'medan perang penuh darah' atau si karakter 'terpelintir dalam lembaran perselingkuhan'.

Apa pun itu, pembaca harus secara tidak sengaja berhasil mengempaskan diri ke dalam aksi di dunia yang tidak mereka kenal dan berkenalan dengan karakter yang belum mereka ketahui.

Sementara aksi menjadi cara 'mencengkeram' agar dapat memulai sebuah cerita.

Pertimbangkan apakah adegan dan aksi itu penting, sehingga permulaan tidak terlalu berlebihan atau membingungkan pembaca menyesuaikan diri.


6. Menggunakan Prolog Sebagai Pengenal Atmosfer.

Bangunan di dunia novel merupakan salah satu hal yang sangat  kusukai dalam genre fantasi dan fiksi ilmiah -- mungkin, pembaca juga menyukai itu.

Rincian yang sangat lezat! Setting dijelaskan dengan cukup detail sehingga pembaca dapat memvisualisasikan lingkungan karakter, hal ini membuat alur tidak terlalu terburu-buru mempercepat laju.

Lanjutkan dengan hati-hati! Gunakan prolog secara ketat agar dapat mengatur nada dan mengenalkan elemen bangunan dunia.

Seringkali, rincian ini dapat dimasukkan ke dalam bab, tanpa memerlukan prolog.

Namun, seperti apa pun jenis prolog atau inklusi -- pengecualian -- sama sekali bersifat subyektif.
Baca Juga : Jenis-Jenis Prolog.
Jadi, kapan prolog bisa dimanfaatkan?
Dengan kata lain; kapan prolog menjadi aset bagi ceritamu?

Brian A. Klems,
Menurut Brian A. Klems, "Prolog digunakan saat materi yang ingin kamu sertakan dalam pembukaan tidak sesuai dengan urutan cerita lainnya."

Prolog harus menyediakan informasi yang -- atau akan -- penting agar pembaca memahami plotnya.
Seringkali, prolog tidak termasuk protagonis dan berlangsung di luar plot pusat (meski tidak selalu).

Nah, di akhir kata. Sebagai Penutup.
Prolog harus dipersembahkan dengan niatan memperkenalkan dunia baru ke pembaca. Memanfaatkan prolog merupakan cara menggaet pembaca agar tertarik dengan alur yang hendak kamu suguhkan ke pembaca.

Cara-cara di atas, merupakan hal-hal yang harus kamu lakukan dan tidak lakukan dalam mempersembahkan suguhan prolog ke pembaca -- agar mata pembacamu tidak berlinang air mata. 

Nah! Artikel ini tidak habis sampai di sini saja loh, masih berlanjut ke 'Jenis-Jenis dan Kekuatan Prolog'. Baca yuk!

Baca Juga : Jenis-Jenis dan Kekuatan Prolog.
© WeWeDogom.Com
® EvandoTM.