Puisi Menstimulasi Kemampuan Menulis.

WeWeDogom.Com -- Puisi merupakan salah satu dari ragam sastra di dunia. Kata demi kata dalam puisi disajikan berirama dan berima, penyusunan pun memiliki larik dan bait.

Tentu tidak semua orang bisa menulis puisi yang indah, namun semua orang bisa menulisnya!

Dalam Artikel ini, akan membahas;
  • 〷 Puisi
  • 〷 Alasan Puisi Dapat Meningkatkan Kemampuan
  • 〷 Majas & Ragam Majas
  • 〷 Puisi & Jenis Puisi
  • 〷 Meningkatkan Kemampuan Menulis melalui Puisi


Bagi seorang penulis ...

Puisi dapat meningkatkan kemampuan menulis lintas genre, tak masalah dalam bentuk fiksi mau pun non-fiksi.

Puisi juga dapat memperbaiki keahlian menulis, memberikan alunan suara indah ke pembaca melalui kata-kata atau mendeskripsikan objek dan membangkitkan suasana.

Alasan mengapa Puisi dapat meningkatkan keahlian menulis.

  • 1. Puisi membuat fokus pada tujuan.
  • 2. Puisi dapat membuat ide mainstream, disajikan lebih baik.
  • 3. Puisi melahirkan kosa kata baru.
  • 4. Puisi membantu merasakan suasana.
  • 5. Puisi menghidangkan cerita yang kompleks dan tidak panjang.

Tentu, alasan di atas masih lebih banyak yang seharusnya disebutkan.
Intinya!

Ketika menulis puisi, biasanya penulis dituntut berani merasakan dan membangkitkan suasana.

Dalam merasakan dan membangkitkan suasana, puisi tidak menuntut banyak hal. Cukup pahami makna dari majas.

Majas sendiri dibagi atas 17 jenis yang dibedakan dalam 4 tipe;

1. Majas Perbandingan
     - Personafikasi
     - Metafora
     - Asosiasi
     - Hiperbola
     - Eufemisme
     - Metonimia
     - Simile
     - Alegori
     - Sinekdok
     - Simbolik
2. Majas Pertentangan
     - Litotes
     - Paradoks
     - Antitesis
     - Kontradiksi
3. Majas Sindiran
     - Ironi
     - Sinisme
     - Sarkasme
4. Majas Penegasan
     - Pleonasme
     - Repitisi
     - Retorika
     - Klimaks, & Anti-klimaks
     - Paralelisme
     - Tautologi

Semua jenis Majas tersebut dapat diaplikasikan ke 21 Ragam Jenis Puisi.
Ke-21 Ragam Jenis Puisi tersebut, yakni; 

Puisi Lama (s/d 1920); Syair (Nasihat, Pendidikan), Pantun (Nasihat, Jenaka, Teka-Teki), Seloka, Gurindam, Karmina, Mantra (Berlindung, Menyerang), Talibun.

Puisi Baru Berdasarkan Isi; Balada, Himne, Ode, Epigram, Romansa, Elegi, dan Satire.

Puisi Baru Berdasarkan Bentuk; Distikon, Terzina, Quatrain, Kuint, Sektet, Septime, Oktaf, dan Soneta.

Nah, dari beraneka ragam jenis puisi. Cobalah memahami ragam dan tata cara membuatnya. Coba pula untuk membuatnya satu-persatu.

Agar dapat meningkatkan kemampuan menulis dari menulis puisi. Cobalah untuk mengusahakan hal berikut ini;

Baca Lebih Banyak Puisi 

Tentu saja cara terbaik mulai memperbaiki tulisan dengan puisi ialah membaca puisi dan lebih banyak membacanya.

Puisi sangat dianjurkan karena mudah dan pendek, yang memungkinkan penulisnya dapat bereksperimen dengan berbagai gaya.

Cobalah membaca beberapa ragam dan rasakann serta amati hal yang puisi itu berikan padamu. Jika puisi yang kamubaca meninggalkan kesan, tanyakan pada dirimu, "Mengapa dan bagaimana bisa puisi ini mempengaruhi?"

Sebagai permulaan, cobalah membaca puisi-puisi yang sering ditulis oleh penulis lain di grup Forum Wattpader Indonesia dalam 'Daily Writer' mereka.

Belajarlah Merangsang Indera.

Penyair itu sangat hebat! Karena dapat melukis gambar dengan kata-kata, tapi gambar yang dimaksud, tidak terbatas pada gambar; Penyair harus menstimulasi penglihatan, aroma, suara, dan sentuhan.

Penyair seperti sebuah kamera yang menghasilkan gambar. Namun, gambar tersebut tidak hanya dinikmati mata, melainkan lebih menancap mata dan pikiran.

Cobalah melukis gambar dalam tulisanmu sendiri, atau latihan menulis dengan mengamati sebuah gambar. Lihatlah gambar seperti apa yang bisa kamu bayangkan, dan coba maknai mengapa penglihatanmu dapat merangsang inderamu yang lain.

Belajar Menggunakan kata-kata Faktual 

Puisi juga mengajarkan kepada penulis bahwa lebih baik menggunakan kata yang faktual di tempat yang abstrak.

Contoh kata yang faktual adalah 'hangat', karena dapat dirasakan dengan indera dan nyata. Meskipun hangat dapat dirasakan, namun dia tak dapat dilihat.

Karena tidak dapat dilihat, maka akan tergolong dalam ke-abstrak-an.
Menggunakan kata-kata abstrak di dalam puisi akan merangsang indra pembaca, meskipun tidak dapat dilihat, pembaca bisa memvisualisasikannya.

Seperti contoh kalimat;
- "Gadis itu merasa bahagia."

dengan

- "Pipinya bagaikan tomat, memancarkan kehangatan di senyumannya."

Kata tomat, memang terlihat aneh bila digabungkan dengan 'pipi' dan 'kehangatan', tetapi akan membuat pembaca mengingatnya karena dapat memvisualisasikan.

Belajar Mengonversi hal Klise, Menjadi Ekspresi.

Setiap gaya penulisan yang klise pasti akan terasa hambar. Terlalu banyak 'ungkapan' akan membuat tulisan seperti Dada Sakura--Rata dan tidak menarik.

Contoh hal klise;
- Dia buta seperti kelelawar.
- Pekerja yang sibuk seperti lebah.

Hal di atas memang dapat dirasakan dan faktual. Tapi, semua orang sudah mengumpamakan hal tersebut, maka jadilah klise.

Sebagai bentuk mengatasi permasalahan di atas, silahkan mengkonversikan klise.

Misalnya, coba cantumkan semua kata yang berkaitkan dan buat frasa baru.

Seperti;
- "Tak melihat sekitar seperti seekor kuda penarik kereta."
- "Sibuk seperti wanita tua yang merajut."

Cobalah temukan ungkapan faktual yang baru dan menginspirasi.

Belajar Menumbangkan Hal Biasa

Kekuatan puisi terletak pada kemampuan penyair melihat benda biasa, tempat, atau gagasan dengan cara yang masih baru 'fresh from the oven'.

Bayangkan, lihatlah anak kecil dengan ibunya di rumah. Di mata penyair, akan membayangkan anak kecil itu mengecat dinding dengan cat kuku dan ibunya berusaha tidak marah.

Di mata orang lain, mungkin hanya seorang anak kecil yang hidup dengan ibunya di rumah.

Coba lihat sesuatu yang biasa dan cobalah melihatnya dengan cara yang sama sekali baru, dan tulisanmu akan sangat mencintaimu.

Belajarlah Memikirkan Tema

Penyair menyukai tema, dan tulisanmu sendiri juga harus menyertakannya.

Namun, banyak penulis pemula merasa sulit memahami tema. Tema bukan hanya sebuah pokok pikiran. Kamu tidak bisa mengatakan bahwa ceritamu bertema perang, karena itu topik, bukan tema.

Kamu bisa mendefinisikan tema dengan sebuah kalimat opini yang melampirkan tema.

Contohnya topik peperangan. Dengan demikian, tema-mu mungkin;

"Manusia mengklaim dirinya sebagai orang yang mencintai perdamaian, perang adalah aspek alami dari umat manusia dan salah satu cara mendapatkan perdamaian."

Penutup : 

Puisi benar-benar mampu membuatmu merasakan karya tulismu sendiri. Memikirkan hal lain dari cara pandang baru dan memaksamu mengecilkan isi cerita, karena puisi memang memiliki kapasitas yang kecil, namun kemampuan bercerita yang luas. 

Berlatihlah menulis puisi agar kemampuan ber-majas-mu ikut terstimulasi. 

Cerpen untuk membiasakan, Puisi untuk mengasah kemampuan. 

Akhir kata kuucapkan terima kasih.

Terus lah Menulis, Tetap lah Menulis! Semangat! 

ⒸEvandoTM
ⓇWeWeDogom.COM
𝚃 Trslt by : Hend Jobers

Komentar, Kritik dan Saran dari kalian adalah semangat untuk kami.

Klik di sini