Cara Menciptakan Protagonis yang Tidak Bercermin dari Dirimu.


www.WeWeDogom.Com -- Bagaimana seorang penulis menciptakan karakter yang tidak seperti diri mereka sendiri dan memberinya kepribadian yang hidup dan bernafas? Mudah! -- mungkin.

Oke, sebut saja tokoh utama dalam novel yang akan dijadikan contoh; merupakan seorang pianis dari bangsa alien berusia 24 tahun.

Seorang wanita muda bernama Asnita yang menyamar menjadi admin Wattpad Lovers Indonesia.

Sekarang, lihat aku.

Ya, aku seorang pria dan masih muda pula -- jomblo juga. Jadi, bagaimana caranya agar aku dapat masuk ke dalam kerangka dan pemikiran karakter wanita?

Setelah aku berhenti bertanya pada diri sendiri,

"Apakah aku akan benar-benar mau menyusuri ketidaktahuan ini?"

... dan ...

"Berapa banyak langkah yang mungkin akan membantuku membuat Asnita menjadi hidup di buku ini?"

Jadi, ayo gunakan satu menit waktu luang. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan bersamaku melalui langkah-langkah menyusun karaktermu, kuharap tips ini akan membuatmu bekerja lebih baik lagi.

Tapi sebelum itu, terima kasih telah mengunjungi situs murahan yang membahas dunia literasi ini.

Aku bersyukur, karena hadir kalian membuat situs ini menjadi berharga. Apalagi jika mau membagikannya ke temanmu yang lain.

Baiklah, ayo kita mulai saja!

1. Mulailah Dengan Karakter, bukan Plotnya.

Meskipun memiliki plot atau alur cerita tanpa karakter yang terwujud sepenuhnya di dalam ide, merupakan bagian paling bagus -- tapi, hal ini akan membuatnya tak bertumbuh.

Kebanyakan penulis memiliki satu karakter yang mengetuk pikiran si penulis itu sendiri.

Karakter itu, bagaikan suara seperti Skizofrenia yang terus-menerus berbisik ke saraf telinga; terus menginsipirasi dan memaksa hadir agar dapat dilukiskan ke dalam kertas -- lembar kerjamu.

Seseorang mempercayai ide kreatif, selalu hadir tak terduga. Kurasa benar, karena memang ide selalu hadir tak terduga.

Di artikel lain, buat kamu yang sulit mengembangkan ide tak terduga itu. Aku memiliki artikel menarik yang sudah dipublikasikan di dalam situs ini.
Baca juga : Mengembangkan Ide (Cara yang tak pernah kamu ketahui!).
Mempercayai suara yang berbisik di telinga, mungkin merupakan awal dari lahirnya tokoh utama yang menarik -- seperti Harry Potter yang lahir saat JK. Rowling menaiki kereta api dari Manchester menuju London.

Kamu, bisa cari tahu bagaimana JK. Rowling menyelesaikan semua seri buku Harry Potter yang dibeberkannya dalam bentuk 'Tips Menulis', saat dia diwawancarai.
Baca Juga : Tips Menulis ala JK Rowling.
Kembali ke topik, ikuti saja bisikan itu, bahkan jika dimulai dalam adegan dialog. Kamu akan terkejut! Dengan hal yang akan kamu temukan tentang protagonis milikmu, seperti yang dikatakan William Faulkner;

"... dimulai dengan karakter, biasanya dia akan berdiri tegak dan mulai bergerak ... yang bisa kulakukan adalah berlari di belakangnya, dengan kertas dan alat tulis yang berusaha tetap semangat bekerja. Catat apa yang si karakter katakan dan akan lakukan."


2. Keluar dari Kepalamu dan Masuk ke Protagonismu.

Jangan hanya menulis apa yang pikiranmu perintahkan. Jadilah karakter, dan tulis apa yang karakter itu mau -- bayangkan! Kamu adalah si karakter itu.

Kaitkan dunia dari sudut pandang si karakter. Lakukan, seperti apa yang sering dilakukan aktor-aktor film -- mengasumsikan perannya.

Ada banyak -- bahkan lebih banyak -- pemeran film yang mau mengambil peran dalam memainkan gender yang berlawanan dari kepribadiannya. Bahkan, mereka menjalani latihan khusus agar dapat menjadi lebih menjiwai.

Agar dapat memerankan dengan percaya diri, mereka harus masuk ke dalam latar belakang si karakter dan mengubah diri mereka menjadi personal tersebut.

Jadi! Jadilah si karakter. Nah! Agar lebih menarik, aku punya Artikel yang membeberkan rahasia bagaimana menciptakan karakter yang diminati pembaca.
Baca Juga: Rahasia Menciptakan Karakter yang Diminati Pembaca.


3. Pelajari Karakter di Sekelilingmu.

Aku telah memiliki pengalaman dalam meriset -- karena aku meriset, sebab aku juga seorang Blogger.

Profesiku sebagai Marketing Sepeda Motor, membuatku mudah bertemu dengan manusia labil yang diidolakan banyak gadis, penulis amatir yang bimbang dan beberapa orang yang berbakat dalam pekerjaan.

Serta seorang security ganteng yang suka dengan onces -- sebutan anak remaja gatal yang enggan disebut cabe-cabean. Aduh! Cabai! Pedas sangat.



Bekerja dengan mereka. Aku menjadi sadar akan kebiasaan, ambisi, kekecewaan, idiom, dan kebahagiaan mereka -- dan tentu saja, ada hubungannya dengan orang-orang yang memiliki pemikiran bodoh! (Maaf).

Semua itu disalurkan ke karakter utamaku, yang sudah kusebut di awal Artikel ini; yang kita jadikan contoh, Asnita -- bukan Allita.

Jadi, mari mencoba temukan orang lain yang tidak seperti kamu di tempat kerja, pertemuan sosial, warung kopi atau di mana pun -- pelajarilah, kombinasikan kepribadian mereka.

Protagonis yang hidup dan nyata akan mulai muncul, dari hasil risetmu.

Cobalah lebih terbuka dengan lingkungan. Jangan menjadi seperti penulis yang memiliki stigma negatif; yang pernah kubahas dalam artikel berikut ini.

Baca Juga : Stigma Penulis di Mata Masyarakat.


4. Masukkan Protagonismu ke dalam Tindakan.

Tetapkan taruhannya. Letakkan karaktermu dalam area berbahaya. Hadapilah dia dengan antagonis. Kamu akan mulai melihat bagaimana protagonismu bereaksi terhadap situasi.

Jika kamu memaksa tokoh utamamu melakukan apa yang akan kamu lakukan ketika berada di situasi seperti ini, kamu berada di luar jalur -- aku memang memintamu berperan menjadi si karakter, tapi jangan jadikan si karakter seperti dirimu.

Ikuti protagonismu. Motivasi mereka lah yang akan membuat mereka menjadi lebih jelas dan hal ini akan membuatmu ikut ke dalam perjalanan alurnya.

Reaksi mereka juga bisa membawa ceritamu ke arah yang tak terduga dan lebih menarik.

Jadi, selagi kamu menyusun Outline. Mengetes konflik dengan Protagonis dan Antagonis itu bagus. Oh iya, apakah kamu tahu apa itu Outline?

Jika "Ya," baiklah! Aku akan mempromosikan artikel yang membahas, Cara dan Pentingnya Menyusun Outline -- ini juga berlaku untuk kamu yang menjawab, "Tidak,".

Baca Juga : Pentingnya Outline dan Bagaimana Cara Menyusunnya?

5. Riset, Riset dan Riset.

Jika protagonismu merupakan -- katakan lah -- seorang Ilmuwan, seorang Marketing atau Polisi. Tapi, kamu tidak tahu bagaimana mereka bekerja dan belum pernah berbicara dengan orang-orang seperti mereka.

Cobalah mewawancarai mereka, itu akan memberikan wawasan dan nuansa ke dalam dunia mereka yang akan membantu membentuk protagonismu menjadi karakter yang bisa dipercaya.

Aku bisa memainkan piano secara rekreasi -- hanya memaikannya sebagai penghibur diri -- dan tahu sedikit tentang alat musik ini -- walau aku kerja di Yamaha, tapi merk pianoku bukan Yamaha.

Tidak memahami profesi yang ingin kamu kembangkan dari perspektif yang berbeda dengan kenyataannya. Akan membuat karaktermu, seperti robot -- dan lebih kasar, seperti Anjing! 

Tapi bagaimana kalau protagonisnya adalah robot atau anjing?

Kemungkinan besar kamu akan antropomorfisasi -- atribusi karakteristik manusia ke makhluk bukan manusia -- karakter dalam beberapa cara.


Garth Stein melakukan pekerjaan yang hebat di The Art of Racing in the Rain, seorang penulis best seller yang menceritakan dari sudut pandang seekor anjing.

6. Dengarkan Pendapat lain.

Menulis karakter yang berlainan dengan kepribadian, katakanlah seorang wanita seperti Asnita dengan sudut pandang pertama, yang benar-benar terwujud sangat lah menakutkan.

Tapi, aku harus berhasil. Sebab ini tantangan.

Seorang pemeran utama wanita memberi umpan balik sepanjang perjalanan, begitu pula Ruth Greenstein, editor dan penerbit, yang memberikan perspektif yang unik.


"Paparkan protagonis kamu kepada orang lain. Kamu akan menciptakan fokus dari sudut pandang yang berbeda, itu akan membantumu mengisi kekosongan, menemukan wawasan dan akan menilai apakah protagonismu benar atau tidak."

Kesimpulan :
Dalam menciptakan karakter yang diminati pembaca, seperti yang sudah ditulis di atas -- dalam artikel ini.

Banyak yang menyuruhmu untuk mempersiapkan segala aspek, tidak hanya fokus dan bingung dengan nama atau latar belakang. Dari cara mereka berpikir dan bertindak juga merupakan acuan penting.

Bila perlu, lakukan wawancara kepadanya.

Baca Juga : Wawancarai Karakter, 10 Pertanyaan Penting!

Nah! Bagaimana, tips tadi? Langsung bisa kamu coba, dong dan aku harap kalian mengerti maksud dari tulisanku kali ini.

Sebagai bagian penutup, aku punya artikel menarik nih yang bisa kamu baca. Jadi, bahan bacaan kamu gak langsung habis begitu saja.

Akhir kata, kuucapkan Terima kasih. Terus lah semangat menulis sebab menulis itu kegiatan yang baik serta berbuat baiklah dari menulis.

Sampai ketemu di perjalanan lain~

Semangat menulis! Terus menulis.

© EvandoTM
® WeWeDogom.Com