Cara Praktis Menciptakan Karakter yang Diminati Pembaca.


www.WeWeDogom.Com -- Dari mana asal karakter fiksi serta bagaimana kamu membangunnya dari awal?

Bagi beberapa penulis, karakter berbisik di telinga mereka atau muncul dalam mimpi mereka; bagi orang lain, membangun karakter membutuhkan usaha dan pemikiran bagaikan membangun rumah.

Bahkan JK. Rowling terinpisrasi dengan Harry sebab perjalanan di Kereta Api. Tapi, sebelum memulainya, izinkan aku menyapa kalian semua.

Sumber : Zeppeto.

Terima kasih atas dukungan kalian ke situs murahan yang domainnya saja cuma seharga 150rb pertahun.

Jangan segan atau enggan membagikan ke temanmu yang lain jika informasi di situs ini bermanfaat.

 Anggap saja, membagikan situs ini merupakan bentuk 'sedekah' online. Aku senang karena kalian mendapatkan informasi dari situs ini.




Metode dalam artikel kali ini akan sangat bervariasi bagi setiap penulis. Tidak ada cara yang salah membangun karakter, hanya saja memerlukan konsisten dan pemahaman.

Mungkin, ini berguna bagiku. Tapi, mungkin saja tidak berfungsi untukmu. Tenang saja, 5 dari 7 orang teman penulisku sudah menerapkannya. Ya! Mereka berhasil.

Sebelum kamu mulai meniru khayalanmu. Aku anjurkan untuk mem-visualisasi-kannya agar dapat menjadi nyata, lebih hidup dan sangat hidup.

Semakin nyata karaktermu maka semakin nyata pula dia di mata pembaca.

1. Pilih Point of View -- Sudut Pandang.

Kamu tidak dapat memisahkan karakter dari metode bercerita yang kamu pilih atau sudut pandang (POV). Untuk mendefinisikannya secara sederhana, sudut pandang itu seperti dua hal berikut;
  • 1. Seperti mendongeng yang memungkinkan pembaca mengakses kehidupan batin karakter kamu seperti emosinya, pikirannya dan pengalaman indrawinya.
  • 2. Merupakan cara kamu berbagi pandangan dunia karakter yang unik dan kejadian yang dia alami di dunia seperti pendapat, filosofi dan pengamatan.
Hanya melalui POV sajalah yang bisa membuat seorang gadis muda di desa mempelajari perspekstif dukun ala kampungnya agar dapat menjadi penyihir atau mengintip ke dalam pikiran seorang tahanan yang menyesal karena tindakannya.

Begitulah keajaiban POV, membantu menerjemahkan pengalaman karakter ke pembaca.
Baca Juga : 10 Pertanyaan untuk Mewawancarai Karakter.
Tentu, penting mempertimbangkan sudut pandang yang akan kamu gunakan sebelum memulai menulis karaktermu.

Setidaknya, pikirkan sudut pandang yang akan kamu pilih sebelum terlalu dalam masuk ke dalam naskah milikmu. Nah, karana itu lah, POV bagaikan lensa yang memfokuskan cerita ke pembacamu.

Apakah kamu ingin menceritakan detail karaktermu atau kamu ingin pembacamu lah yang mengetahui detail karaktermu dari cara berpikirnya?

Semua tergantung dari POV yang kamu pilih. Ingat! Tidak ada perubahan POV secara drastis di tengah alur cerita. -- itu cuma dilakukan oleh Wattpader alay.

Buatlah keputusan tentang sudut pandang yang akan kamu pilih ke ceritamu, itu penting karena kamu pastinya tidak ingin menulis seratus halaman dan menyadari bahwa POV yang kamu pilih tak sesuai keingannmu.

Percayalah, berbicara dari pengalaman. Tidak ada gunanya mengganti POV, baris demi baris selama beberapa ratus halaman.

Karena itu, aku merekomendasikan agar menulis beberapa sketsa karakter atau beberapa bab 'uji coba' di beberapa POV yang berbeda.

Misalkan, tulislah adegan menggunakan sudut pandang pertama. Kemudian, tulis lagi adegan yang sama menggunakan sudut pandang yang berbeda. Bandingkan, kemudian pilih.

Sumber : Zeppeto

2. Pilih Kata Kerja / Diksi.

Kata kerja merupakan detail yang banyak penulis lupakan agar dipertimbangkan sebelum memainkan peran penting dalam menentukan tingkat keintiman antara karakter dan pembaca.

Ketegangan mengacu pada konjungsi kata kerja dalam tulisanmu.

Tidak ada yang mengganggu kelancaran aliran membaca kalimat, kecuali kata kerja yang tidak konsisten -- dan kamu sangat yakin bahwa kata kerja yang kamu gunakan sudah konsisten?

Perhatikanlah imbuhan -di,-me, dan -ke. Serta beberapa imbuhan lainnya.

Contoh;
Kata dasar 'makan'. Bedakan; memakan, dimakan, kemakan dan termakan.

Dari kata kerja lah, sebuah diksi yang indah lahir.
Baca Juga : Jenis Writter's Block yang Menghantui Penulis.

3. Buat Kekurangan / Cacat! Tapi, Membuat Pembaca Tertarik.

Hampir semua fiksi memperkenalkan pembaca kepada orang-orang yang 'cacat' atau memiliki kekurangan. Tapi, malah kekurangan itu membuat pembaca bersimpati dalam beberapa hal.

Sebuah karakter, harus dapat dihubungkan. Dia mungkin mengacaukan atau membuat pilihan yang buruk, pemarah dan selalu berbicara sebelum berpikir atau lupa membagikan artikel yang dia baca, padahal informasi ini menarik.

Namun, dia juga harus bisa mendapatkan simpati, atau kekuranganya harus bisa dimaafkan. Dia harus berfungsi dengan karakter lainnya.

Karakter simpatik tidak harus menjadi hal yang menyenangkan dan pastinya dia tidak perlu sempurna.

Karakter 'sempurna' bagaikan seperti robot; seseorang tanpa kekurangan atau keburukan; seseorang yang menangai setiap rintangan tanpa perlawanan dan yang tidak pernah meragukan dirinya sendiri atau membuat kesalahan.

Membaca tentang robot tidak menarik atau sangat menarik jika karaktermu itu robot yang lucu karena, karakter 'sempurna' biasanya tampak menyebalkan, narsis atau tidak stabil.

Tujuan fiksi mungkin hanya menghibur, tapi fiksi juga membantu pembaca terhubung dengan aspek-aspek yang sulit dari kondisi manusia.

Memvalidasi dan menjelaskan rangkaian emosi kompleks yang mewarnai pengalaman dan kehidupan manusia. Faktanya, para periset di The New School of New York melakukan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science edisi Oktober 2015.

Diungkapkan, bahwa pembaca fiksi menunjukan peningkatan kapasitas berbeda dari diri mereka sendiri.

Kelemahan yang bisa diatasi oleh karaktermu membuat pembaca lebih baik dan terhubung dengan si karakter.

Hal ini lah yang dapat menciptakan motivasi dan ketertarikan pembaca ke karakter. Sebab, pembaca merasa ada kemiripan dari kecerobohan yang sama.

Sehingga, pembaca ingin bertindak sesuai dengan karakter yang kamu ciptakan. Hasilnya? Ya! Pembaca menyukai karaktermu.




Berikut beberapa contoh karakter cacat yang mengubah kekurangan mereka menjadi kekuatan. Dilansir dari novel-novel favorit aku dan mungkin kamu juga pernah membacanya;
  • Katniss Everdeen dari seri trilogy The Hunger Games. Gadis keras kepala dan mengorbankan diri, kekurangan itu akhirnya diterjamahkan menjadi kejujuran dan intergritas yang memungkinkannya menyuarakan kebenaran dan membela orang yang kurang berprestasi.

  • Hermione Granger dalam buku Harry Potter. Dia pintar, tapi merupakan darah campuran. Kalian pasti sudah mengetahui siapa dia kan? dia itu karakter cewek paling cantik yang serung mengungkapkan informasi seperti pengetahuan, tapi karena dia memiliki pengetahuan aktual lah yang mendukung kekurangan ini, dan sifat ini menjadi berharga bagi puluhan karakter lain di sepanjang buku.
Katniss Everdeen (Hunger Games)
Hermione Granger (Harry Potter)
Terkadang situasi karakter di awal justru lebih menarik, misalkan; pikirkan seorang anak, dipaksa oleh bibi dan pamannya yang kejam agar tidur di lemari bawah tangga, sementara sepupunya diberi semua kenyamanan,

Lanjutnya ... kalian pasti sudah tahu bagaimana alur selanjutnya. Itulah novel Harry Potter, kita para pembaca justru mengingat adegan terpuruknya.

Sumber : Zeppeto.
Karakter yang memiliki situasi, lebih menarik sehingga perhatian pembaca tetap terfokus pada apa yang akan tejadi selanjutnya.

Sementara itu, jika kamu sebagai pembaca dari contoh di atas, akhirinya berhasil menyukai karakter Harry Potter berdasarkan kelebihan dan kekurangannya.

Ini lah yang disebut situasi awal yang mengaitkan kita sejak awal.
Baca Juga : Ciptakan Protagonis yang Tidak Bercermin dari Dirimu.

4. Perkenalkan Sebuah Masalah.

Agar membuat kehidupan karakter cukup menarik, pertahankan sebuah plot. Kamu perlu memberinya masalah yang begitu luar biasa sehingga akan memaksa perubahan dalam kehidupan luarnya, serta kenyataan batinnya.

Masalah, juga harus cukup besar agar menciptakan riak konsekuensi sepanjang cerita. Ini harus menimbulkan perasaan yang saling bertentangan dalam protagonismu dan mempengaruhi kehidupan orang lain di alur-nya.
Sumber : Zeppeto.
Christoper Vogler, dia merupakan spesialis plot dan penulis The Mythic Journey -- aku mengenalnya karena aku suka dengan hal Mythology dan Mysticology.

Dia menyebut bahwa masalah merupakan 'ajakan berpetualang'. Tapi, aku lebih suka menyebutnya sebagai 'perubahan yang tidak diinginkan'.

Tidak semua yang terjadi pada karakter selalu soal pilihan. Sementara banyak karakter memilih berpetualang. Dalam hal lain, ada perubahan yang ditimpakan pada mereka.

Pikirkan cerita di mana seorang tokoh menerima diagnosis medis yang negatif, mendapati kematian orang yang dicintai dan kehilangan pekerjaan.

Kemudian, menerima surat cerai atau dipaksa melakukan pencarian 'kunci' kehidupan karena dia merupakan orang yang diramalkan.

Kunci di dalam masalah yang kuat adalah memaksa protagonismu bangkit menghadapi tantangan bahkan saat dia tidak menginginkannya.

Masalah lainnya -- aku anggap ini sebagai variasi 'umpan dan peralihan' -- melibatkan karakter yang menerima panggilan berpetualang yang ternyata berbeda dari apa yang dia harapkan.

Mungkin petualangannya lebih rumit dari yang dipikirkannya di awal. --

Christopher Vogler.

Masalah cerita harus menekan, menguji, meregangkan dan menantang protagonismu. Memaksanya masuk ke kedalaman paling gelap dari kekurangannya dan ke dalam kekuatannya.
Cerita terbaik adalah cerita-cerita di mana masalahnya terkait dengan karakter atau dirinya sendiri.

Misalnya dalam salah satu trilogi sang protagonis;

Diana Bishop merupakan seorang penyihir Amerika Modern yang menolak belajar bagaimana menggunakan kekuatannya, karena sihir menyebabkan dia membunuh orang tuanya.

Sayangnya, sihir memiliki rencana lain untuknya. Ketika tanpa sadar dia mengeluarkan sebuah buku yang menarik dari perpustakaan Bodeleian Oxford, Diana membangkitkan kekuatan sihirnya dan mengirim segala jenis makhluk aneh dan berbahaya -- dan menciptakan masalah di dalam plot.




Tentu saja, masalah dalam ceritamu bisa didasarkan pada kenyataan dan bukan fantasi.

Misalnya, penolakan karakter menyetujui pernikahan yang diatur, dapat menyebabkannya melarikan diri dari rumahnya, atau pilihan karakter mengejar karir bernyanyi mungkin akan menempatkannya di tengah sekelompok orang yang tidak jelas.

Ada kemungkinan dan masalah yang tak terbatas, dipilih.

Kesimpulan : 

Menciptakan karakter yang diminati pembaca dimulai dari bagaimana dirimu mencintainya sehingga proses penciptaannya mudah.

Mulailah dari sebuah nama dan latar belakang kemudian buatlah beberapa pertanyaan sehingga dapat mewawancarainya.

Setelah kerangka selesai. Pilih sudut pandang yang sesuai, atur juga konjungsi dan kata kerja yang digunakan. Terkesan remeh, tapi dua hal ini lah yang dapat membuat pembaca jatuh hati.

Dua hal penting di akhir dan sangat penting, adalah masalah dan kekurangan.

Ingat! Karakter yang tidak memiliki kekurangan bagaikan sebuah robot. Kekurangan harus dibarengi dengan masalah, karena kedua hal tersebut saling melengkapi.

Sumber : Zeppeto
Nah! Sekian tips kali ini. Tentang bagaimana menciptakan karakter yang diminati pembaca. Kalau artikel ini bermanfaat, jangan lupa di-share ke sosial mediamu ya.

Akhir kata sebagai penutup, kuucapkan terima kasih.

Semangat menulis! Tetap menulis.

©WeWeDogom.Com
®EvandoTM