Mengenal Tahapan Tapak Dunia Literasi yang Dilalui Penulis : Di mana, Posisimu Sekarang?

www.WeWeDogom.com -- Tahukah kamu bahwa banyak novelis terkenal di dunia, pernah menapaki tahapan awal yang menyulitkan?

Mari berkelana dan mencari tahu, tentang tahap-tahapan yang pernah--dan akan dilalui penulis--dalam artikel kali ini.

Menurut akun Wattpad Keynaa_Key, salah seorang Admin di Grup Facebook : Forum Wattpader Indonesia, bekas Grup WLIndonesia.
"Author merupakan profesi yang tak akan tergerus oleh zaman."

Benarkah Demikian? 

Penulis atau kegiatan menulis sudah ada, jauh sebelum profesi lain seperti; Pemadam Kebakaran, Guru, YouTuber, Influencer, bahkan Presiden, digemari dan dijadikan tujuan di dunia ini.

Menariknya, menjadi seorang penulis tak akan pernah ada matinya. Bahkan walau si penulis itu telah tiada di dunia lagi, karyanya tak akan meninggalkan dunia mengikuti dirinya.

Tapi, sebelum jauh berkelana. Di atas, aku menyebutkan 'Author' & 'Penulis'.

Dalam Artikel ini, akan membahas;
  • 〷 Perbedaan Penulis dan Author
  • 〷 Estimasi Pendapatan Penulis di :
    • Blogger/Website
    • Buku
  • 〷 Tahapan yang Dilalui Penulis

Tahukah kamu, apa perbedaan 'Penulis' dan 'Author'?

Nah, mudahnya; 
  • Jika kamu seorang yang menuangkan ide-ide orang lain atau menulis ulang cerita yang telah dibuat oleh orang lain, kamu disebut penulis.
  • Sementara itu, jika kamu menulis sesuatu menggunakan ide yang berasal dari pemikiranmu sendiri, kamu disebut author.

Sebagai contoh;
  • Jika kamu berniat menulis sebuah novel dengan cara menuangkan ide dan plot cerita di dalam novelmu; maka kamu akan disebut sebagai author, novelis atau pengarang.
  • Sedangkan, jika kamu merupakan penulis buku, artikel atau karya ilmiah yang banyak menulis menggunakan kutipan, ungkapan dan referensi daftar pustaka; kamu akan disebut sebagai writter atau penulis.

Berbicara tentang ide; yuk cari tahu cara 'Mengembangkan Ide & Menyusun Peta Konsep' sehingga menghasilkan Novel yang menarik, di artikel sebelumnya;

--link--


Hal yang harus kamu miliki pertama kali ketika hendak menjadi seorag penulis, ialah kemampuan berpikir dan mengekspresikan pikiran.

Sebab, author dapat menerima hak cipta karena telah menghasilkan karya dari pemikirannya sendiri.

Karena itulah, author harus memiliki kemampuan memahami dan menyampaikan ide ke pembacanya secara baik dan benar.

Seorang author harus melengkapi kemampuan dasar seperti kutipan di atas, dengan tiga kemampuan di bawah, yakni;
  1. Keterampilan berbahasa ketika mengaplikasikan ucapan ke bentuk tulisan; serta kemampuan menggunakan ejaan, tanda baca, dan pemilihan kata (diksi)
  2. Keterampilan penyajian; seperti penyusunan paragraf, pengembangan alur, perincian inti bahasan mengunakan cabang bahasan lain, serta susunan unsur-unsur tulisan.
  3. Keterampilan penampilan, seperti kemampuan mengatur tipografi; penyusunan format sesuai bentuk ejaan bahasa, jenis huruf, pemahaman target pembaca.

Sementara itu, berbeda dengan author, penulis tidak mempunyai hak cipta kecuali dengan sengaja mengubah haluan menjadi author; dengan cara memublikasikan karya yang datang dari idenya sendiri setelah memahami pemikiran orang lain.

Jadi, anggapan bahwa author merupakan profesi yang tak akan tergerus oleh zaman, itu benar! Karena, ketika membetuk negeri ini menjadi negara berdaulat.

Pejuang Kemerdekaan Indonesia, kebanyakan merupakan seorang penulis; intip kisah mereka di …

-- link --

Sampai saat ini, siapa penulis novel yang masih kamu ketahui meskipun dirinya sudah tiada lagi atau baru menemukan sebuah karya yang ternyata penulisnya telah meninggal dunia?

Meskipun si penulis sudah tidak berada di dunia lagi, karyanya masih bisa kamu nikmati. Hal itu akan berlaku juga untukmu.

Mohon, untuk tidak mencantumkan penulis novel The Lord of The Ring dan Narnia.
Sumber : Pixabay.

Di Era Digital, Millenial tidak Melulu Menulis Novel Saja.

Banyak cakupan luas yang dapat kamu embat, sebagai milenial yang menjadi penulis di era digitalisasi ini. Salah satunya ialah menjadi penulis jurnal atau penulis artikel--seperti aku ini.

Memang, masih banyak orang Indonesia yang menilai kalau 'menulis' hanya pekerjaan 'sebelah mata' dibanding dengan mereka yang bekerja di kantoran.

Kegiatan menulis hanya dinilai sebagai kegiatan pengisi waktu luang, itu benar-benar sangat benar.

Karena meskipun aku sudah mendapatkan Gaji UMR & Insentif di kantor tempatku bekerja; aku tetap mendapatkan bayaran dari Google Adsense.

Rata-rata orang Indonesia kebanyakan masih beranggapan bahwa menulis bukan sebuah pekerjaan yang menjanjikan.

Selain membosankan, orang-orang di sekitarmu akan mengira, kamu tak akan mendapatkan sesuatu dari menulis, terutama dari segi materi.

Benarkah?

Penulis itu cakupannya luas banget, tidak melulu hanya penulis fiksi. Tapi, ada juga penulis laman berita, penulis skenario, scriptwriter di agensi iklan--copywriting atau softwriting, blogger, dan masih banyak lagi ruang lingkup pekerjaan penulis.

Owner situs WeWeDogom.Com, Alfin E. Libra telah mendapatkan $50 di UC Media (UC News) dan hampir $1100 di Google Adsense dalam kurun waktu 2016 hingga 2018 (Kurs Dollar = Rp 13.000)

Kerjaannya ngapain aja, sih? Kok enak banget bisa dapat uang, Dollar pula tuh?! Di Wattpad, enggak ada tuh.

Menjadi mitra Google Adsense, kamu hanya menulis apa saja yang kamu mau. Asalkan Situs yang kamu kelola, ramai pengunjung dan ramai klik iklan. Aku harap kamu melakukannya.

Nah! Kamu sebagai pembaca setia situs ini merupakan aset berharga bagi kami. Sebab, karena kamu lah ... situs WeWeDogom.COM menerima bayaran.

"Menulis bukanlah sebuah bakat. Menulis merupakan kegiatan yang hadir karena dibiasakan,"

Karya tulis dapat dinilai baik atau tidaknya dari wawasan (nilai intelektual) si penulis, literatur yang digunakan dan juga hasil riset yang dipaparkannya.

Jadi, bukan sekadar mengembangkan angan-angan dalam pikiran semata. Bila si penulis semakin banyak tahu, semakin luas pula tulisan yang dihasilkannya.

Hal itu tentu tidak bisa didapatkan begitu saja, jika kamu sebagai penulis, tak suka membaca. Karena itu, harga tulisan itu sangat mahal. Sebab tulisan lahir dari ide, kreativitas dan juga kecerdasan.

Dalam kasus ini;
Penulis artikel freelance yang produktif, mampu menghasilkan 3-4 artikel dalam sepekan.

Apabila satu artikel dihargai Rp. 200.000; dan dalam sebulan ada 12 artikel yang dimuat di media masa yang bekerja sama dengannya, berarti si penulis mendapatkan Rp. 2.400.000

Angka itu masih bisa bertambah jika kumpulan artikel-artikel tersebut dibukukan atau mendapatkan rating yang bagus sehingga majalah memuatnya.

Sementara itu tentang royalti buku yang diterbitkan, anggap saja rekayasa kasusnya seperti ini;
  • Penulis berhasil mencetak 3.000 eksemplar, perbuku dihargai Rp. 50.000
  • Pendapatan akan ditotalkan menjadi Rp. 150.000.000 (dengan asumsi terjual semua)
  • Maka si penulis akan mendapatkan royalti 10%, yakni Rp. 15.000.000

Jika dalam setahun si penulis mampu mencetak ulang bukunya lagi, dengan hitungan yang sama seperti di atas, maka si penulis akan segera membeli laptop Republik of Gaming agar dapat memainkan gim favoritnya.

Ika Natassa, di satu episode TEDx Talks via YouTube mengatakan, bahwa dirinya mendapatkan bayaran Rp. 200 juta untuk satu judul novel yang diadaptasi ke dalam layar lebar, yakni 'Critical Eleven'.

Mengesankan, bukan?

Ah, itu hanya angan-angan hitungan belaka. Mana mungkin kamu mendapatkan itu.

Jangan pantang semangat! Walau pun nanti hitungan pendapatanmu berbeda atau belum mendapatkannya. Jangan pernah berhenti!

Sebab,

Di luar perhitungan tentang nilai pendapatan, karyamu tidak 'dinilai' begitu saja. Tapi, akan diarsipkan menjadi kenangan, akan tetap dinilai hingga peradaban manusia masih berlangsung.

Bayangkan, betapa mengasyikannya apabila ada sekumpulan remaja SMA yang menjadikan novelmu sebagai topik pembahasa mereka ketika berada di kantin, atau ketika karaktermu digosipkan mereka karena tidak menyukai tindakanya.

Mengasyikan banget.

Memang, menjadi seorang penulis itu perlu proses. Namun percayalah, meskipun kamu belum mendapatkan pendapatan saat ini, ada harga lain yang lebih mahal dari harga royalti.

Aku akan bertanya lagi.

Apakah kamu masih seorang penulis yang sama seperti kemarin?

Jika tidak tahu apa jawabannya, mari berkenalan dengan 'tahapan menjajali tapak dunia penulis'.

Seorang penulis, terbentuk dalam beberapa tahap. Dimulai dari titik awal hingga akhirnya dia mampu meraih predikat menjadi seorang penulis.

Berikut beberapa tahap-tahap perkembangan penulis;

1. Pembentukan atau Emerging.

Penulis di tahap 'pembentukan' baru saja mulai berkembang, penulis yang berada di tahap emerging akan mulai aktif dan agresif memamerkan karya tulisnya ke orang lain; ntah itu keluarga, rekan atau pun sanak saudara.

Titik seru di dalam tahapan emerging; ialah mulai munculnya 'perdebatan'.

Ketika karya tulisnya dikritik, maka si penulis yang berada di tahap emerging akan sangat keras dan berusaha dengan tekat, mencoba menjelaskan juga mulai berdebat secara detail dan rinci.

Kemudian menyesal di kemudian hari.

Seseorang di tahap emerging memang agak sulit mengendalikan egonya, karena tak terlalu bersedia menerima penilaian.

Sejatinya, penulis di tahapan emerging lebih senang dan sering membutuhkan hal-hal berikut, seperti;
  • Apresiasi
  • Komentar Positif
  • Pujian manis

Hal-hal itu lah yang menumbuhkan berbagai peningkatan. Si penulis yang berada di tahap emerging akan mulai memunculkan kepercayaan diri dan mulai mencoba aktif melangkah ke dunia penerbit.

Dengan percaya diri, penulis tahap emerging akan berani pun bersemangat mengirimkan karyanya ke penerbit atau pun media masa lainnya.

Lalu mengalami penolakan, pada akhirnya membuat si penulis terjatuh amat dalam. Dari penolakan tersebut, si penulis mulai memahami seluk beluk dunia penerbitan--bukan lagi penulisan.

Fokus mereka berubah, sehingga beberapa poin penting; mulai dari norma dan etika bahkan aturan penerbitan--baik yang tertulis atau pun tak tertulis--perlahan masuk ke dalam pikirannya.

Perdebatan seru di awal, akhirnya menjadi karma di akhir.

Di tahap emerging, sering muncul hal-hal seperti berikut;
  • Karya si penulis tak kunjung terbit di tahap striving.
  • Nama si penulis meredup sebab tergantikan dengan penulis lain yang lebih cemerlang.

Di tahap emerging pula, semua orang merupakan penulis, sebab tahap emerging merupakan tahap awal seseorang menjadi penulis. Pada mulanya, penulis hanya menulis demi mengisi waktu luang dan hanya untuk dirinya sendiri.

Umumnya, penulis yang berada di tahap emerging akan merekam tulisannya ke dalam buku 'Diary' atau 'Blog' pribadi.

Karena hanya mengisi waktu luang saja, biasanya hanya tulisan berbentuk sederhana saja. Tanpa memedulikan teknik penulisan bahkan tak memerhatikan bagaimana cara membuat tulisan itu menjadi menarik.

Karena bersifat pribadi, biasanya penulis yang berada di tahap emerging sangat tidak suka jika tulisannya dibaca oleh orang lain--si penulis hanya suka memamerkan saja & dipuji.

2. Pengembangan atau Developing.

Di tahap developing, pemikiran si penulis mulai berkembang. Mulai dari pembentukan keseriusan dan mulai memerhatikan teknik kepenulisan. Semua terjadi karena penolakan dan kepatah-hatian si penulis karena tulisannya dikritik orang lain.

Penulis yang berada di tahap developing mulai merasa bahwa dunia kepenulisan merupakan dunia yang menyenangkan dan mulai mengembangkan serta mencari tahu lebih dalam tentang literatur/sastra.

Biasanya, penulis yang ada di dalam tahap developing mulai memerhatikan teknik tulisan dari orang lain.

Penulis akan menerapkan sistem 'ATM' (Amati, Tiru, Modifikasi) di karya tulisnya dan mulai serius memilih genre serta gaya bahasa (diksi).

Penulis yang berada di dalam tahap developing terkadang mulai aktif masuk ke dalam komunitas kepenulisan, yang tujuannya hanya dua;
  1. Mencoba memahami dan mempelajari lebih banyak teknik menulis.
  2. Memamerkan karya ke orang lain.

3. Pengusahaan atau Striving.

Penulis yang menapaki tahap striving mulai berkembang pesat dari sebelumnya.

Mulai dari teknik kepenulisan yang sudah lebih baik dan lebih banyak, karena keaktifannya di komunitas atau pun pembelajaran dari media lain.

Penulis yang berada di tahap striving mulai terbuka dan lebih baik dari sebelumnya--yang awalnya sangat benci dengan kritikan. Perlahan-lahan seseorang di tahap striving mulai menerima dan sangat membutuhkan kritikan.

Bahkan tak jarang ada paksaan dari dirinya ke orang lain agar orang lain mau dan bersedia mengkritik karyanya.

Jika orang itu tak mau, santet!

Penulis dalam tahapan striving, sadar bahwa tulisannya memang pantas dan patut untuk dinilai dan dinikmati orang lain.

Pokoknya, kamu harus baca atau aku akan bacakan yasin di pemakamanmu!!!

Salah satu kegiatan sarkas yang sering dilakukan para penulis di tahap striving ialah; spam di grup Facebook kepenulisan.

4. Teraktualisasikan atau Self-Actualized.


Penulis di tahap self-actualized mulai aktif  berkecimpung di dalam dunia kepenulisan. Penulis yang sudah teraktualisasikan, merupakan penulis-penulis yang sudah mengarah ke profesional.

Si penulis sudah konsisten dan berkonsentrasi dengan genre serta gaya penulisan pilihan masing-masing.

Semua, si penulis terapkan agar dapat menarik minat pembaca serta dapat membedakan diri dengan penulis profesional lainnya atau sering disebut karakterisasi.

Seperti contoh;
  • • Kak Asma Nadia yang serius dengan tema Islaminya dengan genre Romance.
  • • Mas Raditya Dhika yang serius di genre Humor. Pun demikian dengan Ernest Prakasa.
  • • Madam JK Rowling yang tetap berkarya menjalankan alur Harry Potter Universe.
  • • Miss Suzanne Collins yang akhirnya menerbitkan prequel Hunger Games.

Karena mulai profesional, si penulis di tahapan self-actualized akan lebih sering berhadapan dengan penerbit.

Akibatnya? Perlahan mulai terbuka dengan kritikan, bahkan tak segan merombak tulisannya meskipun satu bab halaman.

5.Kebingungan atau Disorientation.


Di tahap disorientation, ada dua hal masalah yang menjadikan si penulis kebingungan.

Salah satu penyebab mengapa masalah ini muncul, yakni; si penulis mulai merasa tak ada lagi yang membaca atau mengapresiasikan karyanya.

Lambat laun si penulis akan kebingungan tentang tujuannya menulis, lagi. Pandangannya mulai memudar, harapannya juga mulai luntur perlahan.

Akibatnya, minat dan motivasi menulisnya perlahan-lahan mulai kendur juga kualitas tulisan mulai menurun, sehingga si penulis akan berpikir segera meninggalkan dunia kepenulisan.

Tapi, bila si penulis mulai memiliki kepercayaan diri lagi, maka si penulis bisa memulainya lagi dari tahap striving.

6. Keputusasaan atau Desperation.


Di dalam tahap desperation, pemikiran si penulis mulai pudar.

Rasa ketertarikan dalam dunia kepenulisan mulai menghilang, bahkan si penulis mulai beranggapan bahwa menulis sudah tak memiliki tujuan lagi. Si penulis sudah kehilangan arah.

Ketika penulis berada di dalam tahap ini, umumnya akan mulai serius berpikir untuk benar-benar meninggalkan dunia kepenulisan.

7. Bersinar atau Evergreen.


Tahap ever-green disandang oleh seorang penulis yang sudah meninggal, tapi karyanya tetap hijau meski ditelan zaman.

Tahapan satu ini, merupakan tahap yang spesial karena karyanya tetap bisa dinikmati dan masih disukai oleh banyak pembaca meskipun dirinya telah tiada.
Eits, tapi tunggu dulu.

Mungkin, bisa saja seorang penulis yang berada di tahap ever-green, pernah mengalami tahap desperation sebelum akhirnya karyanya tetap dikenang.

Salah seorang penulis tanah air terbaik yang karyanya tetap dapat dinikmati ialah Pramoedya Ananta Toer.
Sumber : Pixabay.

Penutup

Penulis akan selalu beranjak apa pun kondisinya. Bila terpuruk, berhentilah, namun jangan berpaling. Bila terlalu kencang, pelankanlah, jangan terlalu cepat. 

Nikmati semua keadaan yang akan dan sudah kamu lalui. Apa pun ceritanya, kamu harus tetap melangkah hingga akhir cerita yang kamu rencanakan. 

Akhir kata kuucapkan terima kasih. 

Sebagai penutup, izinkanku memaparkan quotes dari Lenang Manggala.
“Mari kita beri tepuk tangan bagi mereka yang bekerja (dari dan) untuk hatinya. Kita tidak akan jatuh oleh hadangan gunung. Tetapi kerikil, justru yang paling kerap membuat kita jatuh terhuyung.”
Ⓒ Evando TM
Ⓡ WeWeDogom.com 
ઋ Alfin E. Libra