IDE : Definisi Menurut Para Ahli & Cara Mengelolah Ide Menjadi Novel || Cara yang Tak Pernah Kamu Ketahui

www.WeWeDogom.COM -- Ide atau gagasan merupakan sebuah gambaran yang melihat bentuk pola di dalam pikiran, rancangan yang tersusun di dalam pikiran atau perasaan yang menyelimuti pikiran.
   
Ide merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yang berasal dari bahasa Yunani; 'idea'.

Di Yunani; seorang filsuf (filsafat) dan juga seorang Matematikawan yang menulis 'Teori Ide' dan beberapa karya lainnya, bernama Plato, memiliki cara pandangnya sendiri terhadap ide.

Dalam Artikel ini, akan membahas;
  • 〷 Definisi IDE menurut para ahli.
  • 〷 Definisi dan Penjelasan Konsep
  • -- Bedah Kasus --
  • 〷 Cara Menyusun peta konsep
  • 〷 Menemukan dan Mengelolah ide

DEFINISI IDE MENURUT PARA AHLI

PLATO

Pandangan Plato terhadap ide dipengaruhi oleh pandangan Sokrates--guru Plato--terhadap definisi ide.

Bagi Plato, ide merupakan suatu hal yang memimpin pikiran manusia, bersifat objektif, bukan subjektif. Meskipun tiap orang memiliki perbedaan satu sama lain, mereka tetap lah manusia.

Bila manusia dihadapi dengan benda yang diamati secara bersamaan; mereka bisa saja memiliki pendapat yang berbeda dari benda yang diamati bersama-sama.

Bagi Plato; konsep ide yang dia cetuskan berbeda dengan pemahaman ide bagi manusia modern saat ini.

Plato beranggapan bahwa ide itu abadi, karena dia ada sebelum manusia itu ada.

Ide yang manusia modern kenal adalah gagasan, sedangkan yang Plato kenal adalah sebuah dunia yang menjadi sumber abadi. Untuk dapat mengambil ide lebih banyak dari dunia itu, perlu usaha.

SUYONO (2004)

Gagasan merupakan suatu hasil pemikiran, usulan, keinginan, harapan yang ingin disampaikan penulis ke pembaca atau pendengarnya.

Lebih lanjut, gagasan itu akan dilengkapi dengan fakta, data, informasi dan pendukung lainnya yang diharapkan dapat memperjelas gagasan dan sekaligus meyakinkan calon pembacaanya.

ALOYS WIDYAMARTHA (1990)

Gagasan merupakan kesan dalam dunia batin seseorang yang hendak disampaikan kepada orang lain. Gagasan berupa pengetahuan, pengamatan keinginan, perasaan, dan sebagainya.

Penuturan atau penyampaian gagasan meliputi penceritaan, dll.

Penceritaan atau narasi, bertujuan menyampaikan gagasan dalam urutan waktu atau dalam rentetan  waktu dengan maksud; menghadirkan di depan mata angan-angan pembaca serentetan peristiwa yang biasanya memuncak pada suatu kejadian utama.
---
Saat ini, ide sering datang tanpa diundang. Kadang muncul tanpa diduga, namun hilang tak terduga.

Seperti yang dikatakan Plato; ide itu ada sebelum manusia itu ada. Itulah sebabnya, ada orang yang terlahir memiliki bakat berpikir kreatif dan ada yang tidak.

Salah satu ciri; orang yang yang memiliki bakat kreatif adalah mampu berkomunikasi dengan ide-ide dan bisa mengembangkannya.

Namun, bila seseorang tidak memiliki bakat berpikir kreatif, tenang saja. Karena kreativitas dapat dilatih.

Karena dapat dilatih, maka perlu adanya konsistensi dan ketekunan agar dapat mengembangkan ide. Di bawah ini; aka ada beberapa tahap mengembangkan ide

MENEMUKAN & MENGELOLAH IDE MENJADI NOVEL

Ide muncul dari perasaan, pikiran dan pengalaman. Kadang ide muncul tiba-tiba, namun bisa hilang tak terduga.

Menyikapi hal ini, maka perlu perlakuan khusus saat berhadapan dengan ide. Salah satunya ialah dengan menyusun konsep.

Konsep berasal dari bahasa latin, ‘Conceptum’; artinya sesuatu yang dapat dipahami. Singkatnya, konsep merupakan bentuk suatu ide atau gambaran yang direalisasikan ke suatu kata atau kalimat.

Ada banyak pengertian tentang konsep; di KBBI, konsep memiliki makna sebagai ‘rancangan’ atau susunan ide yang mengambarkan suatu proses.

A.    MENEMUKAN IDE

Sebuah cerita, bahkan novel yang memiliki rentetan alur berbelit-belit pun selalu berawal dari satu ide yang sederhana, kemudian disusun menjadi satu yang disebut rancangan atau daftar gagasan.

Dalam menemukan suatu ide, memang gampang-gampang susah. Namun, kamu harus pegang erat dan tanamkan kuat-kuat prinsip berikut ini, ketika dirimu hendak menuliskan sesuatu, yakni ...

Tulis apapun yang kamu suka dan sangat membuatmu tertarik padanya, karena hal itu dapat menjadi dasar dalam memilih ide.  Dirimu juga harus mau belajar berpikir dan mau mencari tahu.

Manusia diberkahi Tuhan dengan rasa ingin tahu yang tinggi, anugrah itu menjadi penyelaras antara diri dengan ide.

Ide, akan menjadi sebuah perjalanan baru yang akan kamu telusuri, dan proses pengembangan ide itu yang bernilai sangat berharga.

B.    MENGELOLAH IDE

Dalam mengembangkan sebuah ide menjadi sebuah novel, kamu terlebih dahulu mengurai ide tersebut menjadi buah pikiran yang disusun atau dirancang menjadi sebuah konsep.

Saat merancang konsep, kamu hanya perlu menguraikannya menjadi;
  • Menentukan Pokok Masalah
  • Memberikan 5W + 1H (Apa, Siapa, Kenapa, Kapan, Di mana & Bagaimana)
  • Menemukan Jawaban dari Pokok Masalah
  • Memikirkan Konflik yang akan disuguhkan
  • Mencari Solusi dari masalah yang diberikan

Sebagai Contoh;
Kamu tertarik dengan kisah cinta remaja dan kenangan yang pernah kamu lalui ketika seru bersama teman-temanmu di Warnet langgangan yang kini tak populer lagi. 

Sumber : Pixabay.

Kemudian, kamu menemukan sebuah ide tentang kisah cinta di Warnet. Di mana notabenenya warnet merupakan sarang dari ‘Gamer’

Di ide tersebut, kamu hendak mengisahkan tentang persahabatan, ketertarikan lawan jenis, konflik yang selalu dihadapi oleh ‘Gamer’ dan sebuah sudut pandang bahwa ‘Gamer’ itu sesuatu yang spesial.

Mari mengurainya menjadi sebuah konsep dengan cara mengikuti  langkah-langkah di atas.

1.    Menentukan Pokok Masalah

Gamer identik dengan seseorang yang candu terhadap ‘game online’.

Masalahnya, banyak stigma buruk terhadap gamer yang seakan-akan tak peduli  dengan kehidupan nyata dan terlalu terobsesi dengan dunia game sehingga tidak sadar bahwa ‘permainan’ terbaik adalah kehidupan nyata yang benar-benar diperankan.

2.    Memberikan 5 W + 1 H

Kita mulai dari;

〄 What (Apa)?
Protagonis, seorang gamer candu yang terobsesi dengan dunia virtual yang dimainkannya,
sehingga dirinya secara masif tidak memedulikan kehidupan nyata.

〄 Who (Siapa)?
Remaja laki-laki. Di poin ini, kamu sudah bisa melahirkan seorang karakter.

Mulailah dari hal sederhana, seperti nama, usia, kebiasan, motivasi dan tujuan, serta latar belakang yang menjadi alasan dirinya berada di keadaan seperti ini.

Jangan lupa juga untuk selalu memberikan ‘kekurangan’ di karakter yang kamu bentuk.  Karena, jika karaktermu terlalu sempurna atau terlalu banyak memiliki kekurangan, dia akan seperti sebuah robot.

Tak ada masalah dengan sebuah robot, tapi... apakah cerita ini hendak menceritakan petualangan robot?

〄 Why (Kenapa)?
Suatu ketika, player perempuan datang ke Warnet . Hadirnya membawa perubahan ke protagonis; Motivasi, Tujuan dan Cara Pandang. 

Tiba-tiba, bibit cinta mulai tumbuh.  Pertemuan ini dapat menjadi  ‘tanjakan’ atau ‘tikungan’ alur yang mengarah ke konflik.

〄 Where (Di mana) & 〄 When (Kapan)?

Di poin ini, kamu dapat membangun sebuah dunia.

Mulailah dari sebuah tempat, waktu dan keadaan.  Kondisi umum—apakah terjadi krisis ekonomi atau sedang musim hujan, libur sekolah, baru tamat sekolah, perang antar-umat beragama.

Kembangkan! Kamu bebas mengembangkan.

Latar tempat bisa terinspirasi dari lingkungan sekitarmu, teman-temanmu atau kotamu yang patut diceritakan.

Sumber : Pixabay.
〄 How (Bagaimana)?
Remaja laki-laki yang menjadi protagonis menemukan seorang perempuan di sebuah chat di dalam game.

Kemudian mereka berkenalan dan saling menjalin kedekatan. Bermula dari pertemuan ghatering yang menjadi kegiatan lumrah para gamer, kemudian -- bla-bla-bla.

Sebuah alur mulai mengalir. Perlahan maju menuju ketegangan dan konflik.

Lalu pertemuan ‘mereka’ menuntun ke arah Turnamen Game, puncak dari tujuan para gamer. Di sana, bisa jadi, kedua karakter mulai bertemu salah seorang yang menjadi antagonis.

Bisa juga, sebuah persahabatan remuk karena beda pandangan atau hal lain. Tulis saja, jangan takut!

Selamat! Kini kamu sudah memiliki sebuah kerangka cerita yang lahir dari rancangan konsep yang datang dari ide yang kamu urai.

Mari ke tahap selanjutnya.

3.    Mendapatkan Jawaban dari Pokok Masalah

Nah, di tahap ini. Akan ada sebuah pertanyaan yang muncul sebagai landasan dasar.
Mengapa kamu memikirkan ide seperti itu?

Mari gunakan contoh ide di atas, sehingga akan menimbulkan jawaban dari pertanyaan tadi, yakni ...

Karena terlalu banyak remaja-remaja yang sibuk dengan 'game'-nya sehingga lupa dengan dunia nyata.

Fakta tidak?

Sebagai seorang penulis, benar adanya bahwa penulis merupakan pencatat sejarah. Di sini, kamu bisa mengukir namamu. Bahwa di tahun 2010 ke atas, orang-orang mulai candu dengan game online.

Nah, kamu bisa menambah sub-alur atau tema lain. Tergantung apa yang kamu suka.

Dalam bagian ini. Kamu akan lebih serius dan matang, memilih genre; sudut pandang; dan gaya bahasa-nya.

Sejauh ini, kamu sudah semakin matang menjadi penulis yang berada di tahap emerging.

4. Menentukan Konflik yang akan Diberikan

Di pertanyaan sebelumnya, aku memilih 'cinta remaja', jadi ide ini bersifat novel remaja; karena itu kamu bisa tentukan beberapa konflik ala-ala remaja.

Misalkan;
Cinta segitiga, Pengkhiatan, Perubahan cara pandang, Labil, dll.

Saat menentukan konflik, kamu harus memikirkan juga audien yang akan menikmati ceritamu ini. 


Jangan sampai, target pembacamu 'remaja', namun yang kamu berikan merupakan konflik-konflik yang sering dialami orang dewasa.

Nah, di sini tantangannya!


Terkadang beberapa ide menjadi 'basi' karena konflik yang diberikan biasa-biasa saja.
Sebagai contoh; ayo gunakan lagi ide di atas

Si wanita memilih pergi sebab mulai berbeda cara pandangnya di awal, beberapa gejolak, tikungan dan tanjakan alur, pengakibatnya.


Akhirnya, mereka dituntun hadir. Bertarung di sebuah turnamen berskala regional dan kemenangan diraih si wanita.


Sub-konflik lainnya juga harus berani kamu berikan. Sehingga, beberapa alasan menjadi acuan kuat mengapa konflik 'penting' bisa hadir di alur cerita.


Karena kemenangan itu, si wanita menjadi terkenal dan diperebutkan banyak pria lainnya.

5. Memberikan Solusi dari Masalahnya. 

Terakhir, solusi dan unsur-unsur intristik. 

Dimulai dari alur, dan berakhir menjadi peta konsep.

Di sini, ide kamu sudah benar-benar berkembang dan matang, hanya tinggal memberikan sebuah rasa dan mulai menulisnya.


Jangan lupa berikan unsur-unsur ekstrinsik di dalam karya kamu. Unsur-unsur itu berupa makna, pembelajaran dan tuntunan hidup.

Intinya, kamu harus membuat pembacamu termotivasi dan menjadi tahu bagaimana cara menghadapi masalah 'mereka' seperti karaktermu menghadapi itu.

Karena di bagian 'memilih konflik' tadi kukatakan, "... menentukan konflik, harus memikirkan audien,'' maka berikanlah solusi yang tepat. 


Solusi yang tepat dapat memberikan kepuasan batin pembaca; walau cerita berakhir dengan ending yang tidak tepat, setidaknya pembaca bisa mengikhlaskan keadaan dari pilihan karakter menghadapi konflik yang disuguhkan.


Selesai! 

Penutup;

Cara tadi merupakan teknik mengembangkan ide menjadi novel yang sering kugunakan ketika mulai mendapatkan kepingan ide yang kucatat di buku catatanku. 

Cara itu, menuntut penulis berani memikirkan detail pemikiran, sehingga memiliki alasan dan jawaban dari setiap ide yang dituang ke dalam karya tulis. Sehingga, kemungkinan terjadinya 'plot hole' sangat tipis. 


Cara di atas pula, dapat membantu penulis lebih paham dengan ide yang dikembangkannya. Sehingga mengerti dan tahu dengan arah tujuan dari novel yang akan diciptakannya.


Akhir kata kuucapkan terima kasih.
Teruslah menulis, Semangatlah bekarya! 

Ⓒ Evando TM
Ⓡ WeWeDogom.com 
ઋ Alfin E. Libra