Makna Writer's Block : Sejarah & Pandangan Para Ahli Disertai Jenis dan Solusi Mengatasinya.


WeWeDogom.com – Menjadi penulis diyakini  satu cara terbaik mengukir nama selain di atas batu nisan atau prasasti.  Sebab meskipun raga telah tiada nanti, karya tulis tetap dapat dinikmati hingga kurun waktu yang tak dapat dipastikan.

Jika ditekuni, menulis memang menjadi hobi yang tidak akan ada matinya.

Bahkan dewasa ini menjadi penulis tidak semerta-merta hanya menulis sebuah kisah romansa atau petualangan penuh lika-liku saja; ada banyak gaya baru dan bidang baru yang membutuhkan jasa seorang penulis.

Di era digital saat ini, menjadi penulis lebih menjanjikan. Karena bisa menghasilkan pundi-pundi recehan dengan hanya bermodalkan imajinasi dan kreativitas saja, ditambah komitmen dan kerja keras, juga.


Tanpa harus menerbitkannya ke dalam bentuk buku, penulis masih bisa berkreasi dan menuang buah pikirannya dan mengaduk-aduknya. 

Dengan begitu, tentu saja semua orang bisa menulis bahkan dalam kapasitas apa pun, entah itu;

- Blogger
- Penulis Konten ( Content Writer)
- Influencer
- Freelancer
- Dll

Karya tulis di era kini pun mulai beraneka ragam rupanya, jika orang-orang biasanya mengidentikan karya tulis ke dalam bentuk cerita atau pun novel. Saat ini, beberapa bentuk tulisan dikemas lebih informatif dan menghibur. 

Tulisan-tulisan non-novel, kini lebih konsumtif di era saat ini karena penyebarannya mudah dan praktis. Selain itu, sajian yang lebih renyah dan kekinian, perlahan-lahan mulai menimbulkan minat membaca orang-orang. 

Tulisan-tulisan itu bisa berupa; 

 Artikel Thread  
 Essai Opini

Dari karya tulis itulah, menambahkan anggapan bahwa profesi penulis saat ini sangat menjanjikan.

Emang Beneran Bisa Menghasilkan Uang, Gimana Caranya?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tentu menjadi penulis bisa menghasilkan pundi-pundi recehan. Apalagi, digitalisasi menghasilkan audiens yang lebih besar. Misalnya;

> Menulis e-Novel di platform seperti Ketix ID 
> Menulisa artikel di blog dengan afiliasi Google Adsense
> Menjadi influencer di Sosial Media
> Menulis resensi dengan pendapatan Endorsment
> Penulis Freelancer di beberapa situs seperti UC Media

Selain itu,  tentu kamu yang masih hobi menulis essai dan mengirimnya ke majalah. Bahkan pelajar atau Mahasiswa yang mengerjakan tugas pelajarannya, juga tergolong penulis, loh. Ya, walau enggak menghasilkan uang, tapi tetap menghasilkan karya tulis kan?

Khalayak ramai beranggapan bahwa menjadi penulis membutuhkan kejeniusan. Padahal, menjadi jenis bisa dilakukan dengan banyak membaca dan mulai menulis. 

Sebenarnya seorang penulis hanya dituntut lebih kreatif, memiliki komitmen dan pandai mengelola data yang didapatkan sehingga mampu mengatur informasi yang dibagikan.

Sebagai orang yang dituntut lebih kreatif, kadang-kadang penulis sering terjebak di suatu kondisi yang meliputi kefrustasian. Kondisi itu yang disebut, Writer’s Block.

KAMU YAKIN STUCK KARENA WRITER’S BLOCK ATAU LAGI MALAS AJA?


Dalam Artikel ini, akan membahas;
  • 〷 Penulis di Era Digitalisasi
  • 〷 Makna Writer's Block
  • 〷 Sejarah & Writer's Block
  • - Masa Simbolisme Perancis
  • - Periode'Great American Novel'
  • 〷 Penyebab Writer's Block
  • 〷 Writer's Block Menurut Pandangan Para Ahli
  • 〷 Macam Jenis Writer's Block
  • 〷 Penutup

A. SEJARAH dan Writer’s Block 

Writer’s Block merupakan suatu kondisi yang menghambat kreatifitas penulis sehingga menyebabkan penulis tidak dapat menghasilkan kata-kata, hal ini lah yang menciptakan kebingungan sehingga menimbulkan frustasi. 

Beberapa orang di berbagai bidang lebih senang menyebut Writer’s Block sebagai blank page syndorm’. 

Writer’s Block diyakini sudah ada jauh sebelum istilahnya ditemukan, dan sindorm psikologis ini baru mendapatkan perhatian serius di kalangan sastrawan pada akhir abad ke-20 di Amerika Serikat.

Perhatian serius ini dikarenakan perkembangan profesi psikiater yang marak pada saat itu. 

Diyakini pula, jauh sebelum medapatkan ‘istilah’, Writer’s Block sudah menyerang penulis-penulis di masa ‘Simbolisme Perancis’ dan periode 'Great American Novel'.

1. MASA SIMBOLISME PERANCIS

Masa Simbolisme Perancis ada pada abad ke-19 di sekitaran tahun 1840 hingga 1920. Simbolisme Perancis sendiri merupakan gerakan sastra yang akhirnya menjadi gerakan seni dan teater.

Karya-karya  yang dihasilkan pada masa Simbolisme Perancis kebanyakan menjembatani kesenjangan romantisme dan modernisme. Dasar tujuannya mewakili setiap pengalaman emosional dengan simbol yang lebih kompleks.

Simbol yang dimaksud ialah lambang dunia yang ‘sebenarnya’, yang bertentangan dengan dunia penuh emosional dan mendominasi, juga mengakumulasikan tanda-tanda supranatural tanpa narasi atau lokasi.

Karya Charles Baudelaire's

Penyair pada masa Simbolisme Perancis berfokus pada momen dan pengalaman yang dialami manusia melalui persepsi seperti menyandingkan. 

Bagi para penyair pada masa ini, simbol yang mereka maksud bukanlah ‘objek’ atau gagasan yang konkret. Melainkan keterkaitan kejadian dengan berbagai hal sehingga menghasilkan banyak nada.

Penyair, lebih sering menggunakan nada untuk menjelaskan suatu kondisi yang sulit dilukiskan.  Karena kesulitan menyelaraskan nada dengan bahasa lah, sehingga gagal menyampaikan pesan yang ingin ditunjukkan.

Kegagalan itu lah yang membuat banyak penulis pada masa Simbolisme Perancis, menyarah.

2. PERIODE ‘GREAT AMERICAN NOVEL’ 

Periode Great American Novel mengacu pada novel ‘kanonik’ yang dianggap telah menangkap semangat kehidupan Amerika.

Pada umumnya, novel-novel yang ditulis pada periode Great American Novel ditulis orang Amerika dan mengisahkan seputar permasalahan nasionalisme Amerika. Hal ini seperti disebutkan pertama kali dalam essai yang terbit pada tahun 1868, ditulis oleh John William De Forest yang memiliki karya tulis berjudul ‘American Civil War’.

Di essai itu, John mendefinisikan novel-novel Great American sebagai gambaran emosi dan perilaku orang-orang Amerika.


Periode Great American Novel dikembangkan pada abad ke-18, karya-karya Sastra Amerika pada saat itu diklasifikasikan sebagai cerminan identitas bangsa Amerika bersama perkembangan literaturnya.

Di era Modern, istilah Great American Novel menjadi istilah karya-karya ‘kanonik’ yang menjadi tolok ukur sastra apa pun yang mendefinisikan Amerika dalam masa terrtentu.

Catatan Kaki :
Kanonik atau Kanon Barat merupakan tubuh budaya sastra klasik, musik, filsafat dan karya seni yang sangat dihargai di Barat.

Tidak semua karya yang tergolong Kanon Barat berasal dari Barat, apapun karya yang dianggap penting dan dihargai di seluruh dunia yang datang dari abad pertengahan, akan digolongkan sebagai Kanon Barat.

B. Penyebab Writer’s Block

Dari masa-masa yang dijabarkan di atas, pada masa itu, banyak para penulis atau para ahli menyimpulkan bahwa penyebab Writer’s Block kadang-kadang disebabkan oleh;
  • Masalah Kreativitas
  • Kehabisan Inspirasi
  • Gangguan dari peristiwa lain
  • Penyakit fisik dan batin
  • Depresi
  • Tekanan finansial
  • Perasaan gagal
  • Ragu dengan diri sendiri
  • Perfeksionisme
  • Khawatir dengan opini orang lain

Selain hal-hal di atas, ada juga yang disebabkan karena tekanan. Misalnya, penulis aktif yang diberikan tekanan atau tenggat waktu untuk menghasilkan karya baru sebagai kontrak kerjasama dengan penerbit.

Tekanan yang diberikan itu lah yang menjadi kontributor penyebab Writer’s Block. Biasanya, disebabkan karena gaya baru atau genre yang tidak cocok dengan permintaan.

Tekanan seperti yang dimaksud, pernah direnungkan oleh penulis best-seller asal Amerika, yang karyanya pernah di-filmkan dan diperbincangkan di tanah air, sebab proses pengambilan gambarnya benar-benar dilakukan di Indonesia.

Penulis itu bernama Elizabeth Gilbert, penulis novel best-seller berjudul; Eat, Pray and Love.

Elizabeth Gilbert pernah memberikan nasihat yang berbunyi, “Jangan beranggapan bahwa menjadi penulis berarti memiliki kejeniusan, sebab setiap penulis dapat menjadi jenius karena menulis.”

C. Writer’s Block Menurut Pandangan para Ahli.

Di bawah tekanan, otak manusia akan mengalihkan kontrol dari Korteks Selebral ke Sistem Limbik. Pembatasan yang terjadi di Korteks Selebral akan menghalangi kreativitas seseorang sehingga secara langsung akan terganti menjadi respon emosional.

Biasanya, seseorang yang mengalami perubahan proses ini tidak sadar sedang mengalaminya. Perubahan itulah yang disebut, mood.

Catatan kaki :
Korteks Selebral merupakan lapisan tipis di selaput otak berukuran 1,5 mm hingga 5 mm yang membungkus otak.

Korteks Selebral memeroses informasi sensorik dari lima indera dan bertanggung jawab sebagai alat berpikir, memahami, berbicara, memroduksi bahasa, mengingat, kewaspadaan, kesadaran, kepedulian, perencanaan, memecahkan masalah, motorik dan mengambil keputusan.

Sistem Limbik merupakan sekelompok struktur yang saling berhubungan, letaknya jauh di dalam otak. Bagian ini bertanggung jawab terhadap respon perilaku dan emosional.

Alice Weaver Flaherty – Penulis sekaligus ahli saraf

Dalam karyanya bertajuk The Midnight Disease : The Drive, to Write, Writer’s Block & The Creative Brain, yang terbit pada tahun 2004.

Dr. Flaherty berpendapat bahwa kreativitas sastra dipengaruhi oleh sistem saraf otak yang bernama Korteks Selebral sehingga Writer’s Block mungkin merupakan hasil dari aktivitas otak yang terganggu di area tersebut.

Dr. Flaherty dalam bukunya, menyebutkan bahwa ada banyak penyakit yang mungkin memengaruhi kemampuan menulis seseorang, salah satu yang dimaksud adalah hypergraphia atau keinginan menulis lebih intensif atau lebih bersemangat dan mendalam.

Dr. Flaherty menunjukan bahwa ketika penulis mengalami hypergraphia, bagian otak yang menerima dan mengenali bunyi atau Lobus Temporal akan menderita sehingga menyebabkan kerusakan, bisa jadi perubahan kondisi di Lobus Temporal lah yang mengubah perilaku seseorang sehingga mengahalangi kreativitas.

Agraphia sendiri merupakan gangguan neurologis yang disebabkan rasa trauma sehingga menyebabkan kesulitan berkomunikasi.

Agraphia tidak dapat pulih secara langsung, sehingga memungkinkan seseorang harus memelajari kembali kemampuannya.

Agraphia menjadi bentuk Writer’s Block yang paling ekstream karena pengaruh kerusakan jaringan otak, khususnya di bagian Korteks Selebral.


Edmund Bergler – Ahli psikoanalisis

Dikutip dari buku ‘The Writer and Psychoanalysis’ yang terbit perdana di tahun 1950.

Bergler berpendapat bahwa Writer’s Block terjadi karena perubahan emosi yang memengaruhi kreativitas dan proses menulis, disebabkan oleh pengaruh alam bawah sadar seseorang.

Katanya, setiap penulis merupakan eksibisionis, narsisis, pengumpul dan orang yang depresi dan terus menerus dihantui rasa kekhawatiran tidak produktif.

Penulis beruntung karena dapat mengobati neurosis setiap hari dengan tetap menulis setelah terjebak Writer’s Block atau akan tetap hancur berkeping-keping.

Lawrence Oliver – Penulis Komposisi

Dalam artikelnya yang bertajuk, “Membantu Siswa Mengatasi Writer’s Block”.

Lawrence menyarankan kepada penulis yang sedang mengalami keraguan, agar mengurangi meminta masukan atau menanyakan saran tentang ide. Penulis harus cepat mengeksplorasi idenya sendiri dengan segara dan matang tanpa rasa takut.

Lawrence juga memberitahu bahwa jangan pernah meminta bimbingan atau koreksi dari guru sebelum titik akhir cerita berhasil diselesaikan.

Di artikelnya, Lawrence mengatakan bahwa, “Siswa harus belajar menulis dengan menulis,” karena seringkali para siswa merasa tidak nyaman sebab beberapa aturan yang melumpuhkan kreativitas siswa. Karena ketidaknyamanan itu, membuat penulis mengurangi porsi menulisnya.

Jika penulis mengurangi porsi menulis, itu sama saja mengurangi proses belajarnya.

Phyllis Koestenbaum – Penulis Esai, Puisi dan Fiksi

Dalam essainya yang bertajuk ‘The Secret Climate the Year I Stopped Writing’ edisi musim panas 2007.

Artikel itu menceritakan tentang kegelisahan Phyllis terkait proses menulisnya dan respon intrukturnya.

Phyllis Koestenbaum bilang, “Aku menulis agar dapat merasakan, tapi tanpa perasaaan, aku tak bisa menulis.”

Dari artikel itu, Koestenbaum menyarankan agar penulis mampu merasakan tulisannya agar dapat kembali ke dalam rasanya.  Karena sebaiknya rasa, ialah rasa yang dapat dirasakan.

Mike Rose – Sarjana Pendidikan Amerika

Mike Rose menyatakan bahwa Writer’s Block disebabkan karena kebiasaan si penulis, aturan dan batasan. Sehingga si penulis ragu dengan tulisannya. Khususnya rasa takut terhadap respon pembaca atau pun komentar instrukturnya.

James Adams -- Penulis dan CEO BeeAudio

Di buku James Adams yang berjudul ‘Conceptual Blockbusting’ berbagai alasan Writer’s Block terjadi karena rasa takut ketika mengambil resiko, kekacauan yang terjadi ketika proses menulisnya dan membandingkan hasil tulisan dengan tulisan orang lain.

Bisa juga disebabkan karena kekurangan motivasi atau pun kurangnya kemampuan memroses ide yang didapat dengan menyatukan ide-ide lain yang sudah didapat atau baru saja didapat. 

Baca Juga : Cara Memotivasi Diri Sendiri

D. MACAM JENIS Writer’s Block


Dari penjelasan yang didapatkan dari pandangan para ahli di atas, maka dapat ditentukan macam jenis Writer’s Block yang sering hadir di kehidupan para penulis di era sekarang.

Namun  di bawah ini, ada penambahan Tipe Writer’s Block menurut Fride White yang dikutip dari bukunya berjudul ‘The Daily Writer : 365 Meditations To Cultivate a Productive and Meaningful Writing Life’. 

Fred White sendiri merupakan seorang Associate Professor di Santa Clara Universty di California, Amerika Serikit.
  

PROSEDURAL

Jenis Writer’s Block ini muncul ketika penulis merasa lelah mendedikasikan waktu menulisnya secara serius. Writer’s Block satu ini biasanya hadir saat penulis sudah selesai menyusun rancangan pra-menulis, seperti; kerangka cerita, outline atau bedah ide pokok.

Setelah berhasil menyusun rencana, umumnya penulis akan mengalami kekurangan kepercayaan diri atau merasa skeptis terhadap ide yang baru dikupasnya.

Sehingga, penulis mulai kebingungan memulai eksekusi idenya dan bertanya-tanya, “Apalagi sekarang?” atau “Darimana memulainya?”

Solusinya :


Beristirahatlah sebentar, jauhkan dan tinggalkan sejenak proyek menulis yang sudah disusun itu. Setidaknya, penulis sudah memiliki fondasi awal. Berjalan-jalan ke luar ruangan atau bermain-main sebentar sembari menghirup udara segar mungkin akan membantu.

Tapi, jangan terlalu lama.

MALAS

Writer’s Block satu ini muncul karena penulis terlalu banyak alasan untuk tidak menulis dan membuat penulis banyak menimbun idenya, juga mengabaikan buah pikirnya itu sehingga menciptakan Writer’s Block.

Kata lain dari Writer’s Block satu ini adalah malas. Sebab, timbul dari si penulis sendiri.  Jika penulis serius, apa pun yang ditulisnya akan menjadi karya tulis. Namun, alibi ini dan itu membuat dirinya jauh dari alat-alat tulis. 

Solusinya :

Tidak ada tips lain, selain lekas menulis. Tutup semua perangkat dan jaringan internet atau tuntaskan segera alasan-alasan yang membuat penulis enggan menulis.

Menghasilkan beberapa kata selama 10 menit lebih baik daripada tidak melakukannya sama sekali.

REGULER

Jenis Writer’s Block satu ini muncul ketika penulis melakukan kesalahan. Biasanya, kesalahan itu berupa ‘hengkang’ atau mengabaikan proyeknya dalam kurun waktu tertentu. Bisa jadi, karena liburan atau tugas yang lebih penting.

Ketika si penulis kembali dan hendak melanjutkan proyeknya. Si penulis kebingungan memulai atau mencoba menyelaraskan rasa dengan tulisan sebelumnya.

Tak heran, perubahan rasa kerap menghasilkan Writer’s Block sehingga si penulis memiliki alasan baru untuk kabur dari proyeknya, demi mendapatkan rasa itu kembali, kadang-kadang penulis berharap mendapatkan wahyu atau rahmat dari sang pencipta.

Sayangnya, jika penulis tidak lekas mengambil keputusan dengan cepat. Writer’s Block itu tak akan pernah hilang atau akan terus berputar-putar menjebak kreativitas si penulis.

Solusinya :

Baca kembali tulisan yang telah dibuat sebelumnya, perlahan-lahan dan cermati dengan seksama. Baca lagi ide-ide yang telah kamu catat atau yang telah kamu ingat. Bayangkan sekali lagi.

Gunakan 10 menit atau 20 menit untuk merenung, membayangkan atau berimajinasi agar dapat mengingat-ingat kembali. Selain itu, penulis juga bisa mengembangkan ide setelah membaca kembali tulisannya.

Intinya, lekas ambil keputusan dan jangan berikan alasan apa pun atau penulis akan kehilangan tulisannya lagi.

KETIDAK SENGAJAAN

Yang satu ini disebabkan karena penulis terlalu mengandalkan mood dan bergantung pada ide-ide baru yang didapatkan saat menulis. Mudahnya, penulis tipe ini biasanya akan sangat produktif apa bila mendapatkan ide dan akan merasa kesulitan jika gagal mendapatkan ide.

Gejala atau terlalu mengandalkan mood sama seperti gangguan psikis hyperagraphia. Kadang terlalu bersemangat dan akan terdiam dengan tiba-tiba.

Solusinya :

Cobalah mencatat ide-ide sebelum menulisnya. Belajarnya menyusun outline, kerangkan cerita atau membedah ide pokok. Selain itu, tingkatkan diri untuk dapat menghasilkan informasi dengan cara meriset.

Tingkatkan diri, berkembanglah. Cobalah cara baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

KREATIVITAS

Writer's Block ini muncul karena memang benar-benar kehabisan ide. Sudah banyak hal apapun yang dilakukan, namun memang tidak menghasilkan ide apa pun.

Biasanya, si penulis mampu menulis beberapa bagian tapi tidak berhasil mendapatkan kelanjutan dari tulisannya.

Jika hal ini benar-benar menimpamu, salah satu cara yang baik dan harus kamu lakukan segera adalah lekas membaca. Di saat-saat seperti ini seharusnya penulis memanfaatkan waktu untuk membaca agar waktu produktifitas tidak kosong.

Sebab, penulis yang baik adalah pembaca yang baik.  

Solusinya :

Yap, lakukan hal-hal yang dapat menstimulasi kreativias kamu. Cara yang ampuh memang membaca, karena membaca merupakan cara yang tepat menghilangkan kebosanan, stress dan meningkatkan intelektualitas penulis.

Selain membaca, penulis bisa menonton film, mendengarkan musik, membuat podcast, berjalan-jalan, meditasi atau yoga, olahraga atau pun memainkan game online.

SKEPTIS

Muncul disebabkan rasa takut si penulis akan komentar orang lain. Penulis merasa tidak ada gunanya melanjutkan tulisan.

Penulis mulai khawatir, "Siapa pula yang mau membaca ini?" risaunya.

Pada akhirnya, karya itu tidak akan pernah dipublikasikan. Jika tidak ada semangat penulis untuk mempublikasikn karyanya, itu berarti penulis tidak memiliki niat menyelesaikannya. Jika menerbitkannya secara online di suatu platform seperti Wattpad atau Ketix ID , penulis takut tidak ada yang akan membacanya.

Solusinya :

Jangan terlalu mendengar omongan orang lain. Selesaikan saja! Inti dari menulis adalah berhasil menyelesaikan tulisannya. Apapun hasilnya nanti, biarlah terjadi dan segera belajar dari kesalahan yang didapatkan.

Jangan takut tidak ada yang membaca, karena di era digital saat ini; setiap tulisan selalu memiliki pembacanya. Seperti tagline website WeWeDogom.Com bahwa Setiap Tulisan Pasti Memiliki Pembaca. 


Penutup :

Writer’ Block atau Blank Page Syndorm, sejatinya bukan momok yang menakutkan jika penulis mau melawannya. Anggapan-anggapan tentang Writer’s Block sebenarnya tidak terlalu berat. Jika penulis selalu terjebak di dalam kondisi yang tidak dapat menghasilkan kata-kata, itu berarti ada yang salah dengan teknik menulisnya

Cobalah untuk melakukan cara-cara baru dalam teknik menulis yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Sebab, Write’s Block sudah ada dan sudah menyerang penulis lainnya jauh sebelum penulis modern seperti kita terjebak di sana dan cara-cara mengatasi Writer’s Block juga mudah. Hanya perlu kemauan dan komitmen.

Itulah penyebab mengapa penulis sebenarnya dituntut lebih kreatif, berkomitmen dan memiliki kemauan. Karena, tanpa kemauan dan komitmen, yang ada hanya terus tersesat dan tidak pernah beranjak ke mana pun.

Akhir kata kuucapkan terima kasih.

Teruslah menulis, tetaplah menulis. 

Disusun oleh :
- Alfin E. Libra
- Hend Jobers

Refrensi Artikel :
O- Wikipedia tentang Writer’s Block
O- Go Into The Story tentang Tipe Writer’s Block
O- Writing Coorporative tentang Melawan Writer’s Block
O- Amazon tentang buku-buku yang disebutkan di dalam artikel

7 komentar

avatar

Memang klo lagi writer block ini suka kesel banget. Tapi diri sendirlah yang tahu solusinya gimana untuk menyelesaikannya hehehe

avatar

Yes setuju, gak akan terjadi Writer’ Block kalau diasah terus. Dan aku juga percaya, kalau kita sering kumpul dengan orang2 penulis (apapun) itu, bisa jadi mood booster kita unk nulis lagi.

avatar

Writer's block kalau tdk segera diatas makin berdampak negatif..makin malas, makin nunda, makin ga ada ide. Menurutku balik lagi ke diri sendiri utk mengatasinya :))

avatar

Ternyata bukan aku saja yang sering ngalami writer block ya, penullis hebatpun juga mengalaminya. Tapi mereka tidak berhenti berjuang, berarti aku juga harus mengikuti jejak mereka. suka dengan nasihatnya Elizabeth Gilbert, “Jangan beranggapan bahwa menjadi penulis berarti memiliki kejeniusan, sebab setiap penulis dapat menjadi jenius karena menulis.”

avatar

kalo untuk nulis blog dan kerjaan aku udah luamayan ga writer's block lagi, tapi wattpad ku ga kelar kelar...uhuhuhu

avatar

Aku sering nih mengalami writer block ini. Udah pede banget depan laptop, tau-tau 30 menit berlalu satu huruf pun belum diketik. Padahal sebelumnya ide tuh rasanya berlarian di kepala.

avatar

Duuuh.... ini aku banget ni, bukan karena Writer's Block sih, tapi karena MALAS untuk memulai nulis, lihat aja deh updatean di blog ku, dalam 1 minggu palingan hanya ada 1 postingan, gak seperti dulu, update hampir tiap hari.

Komentar, Kritik dan Saran dari kalian merupakan semangat untuk kami.

Klik di sini

Populer